Konflik Dagang AS-Uni Eropa Memanas, Rupiah Rebound di Pembukaan

Rupiah - waspada.co.idRupiah - waspada.co.id

mengawali perdagangan pagi hari ini, Jumat (26/6), dengan penguatan sebesar 70 poin atau 0,49 persen ke posisi Rp14.105 per AS. Kemarin, Kamis (25/6), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 45 poin atau 0,32 persen ke level Rp14.175 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,18 persen ke level 97,41 lantaran dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran atas pertambahan kasus virus (Covid-19) di sejumlah negara bagian Amerika Serikat dan konflik perdagangan antara AS dengan Uni Eropa.

Pada Rabu (24/6) terdapat lebih dari 36.000 kasus baru di AS, sehingga mengakibatkan para makin pesimis dengan peluang pemulihan yang cepat. “Ini akselerasi sangat cepat di banyak negara bagian AS, yang akan terus menjadi masalah bagi ,” ujar Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo di New York, seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Data Kamis (25/6) menunjukkan permintaan yang lemah sehingga mendorong para pengusaha AS untuk menghentikan pekerja, mempertahankan permohonan baru untuk tunjangan pengangguran yang sangat tinggi, bahkan saat bisnis sudah dibuka kembali. Pesanan baru untuk barang modal buatan AS rebound melebihi perkiraan Mei, namun hanya memperoleh kembali sebagian dari penurunan 2 bulan sebelumnya.

Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, pelemahan rupiah kemarin karena kekhawatiran pasar terhadap lonjakan infeksi Covid-19 dan perang dagang Uni Eropa dengan AS. “Kondisi tersebut semakin mengangkat pamor dolar AS sebagai safe haven. Ditambah proyeksi yang suram dari IMF mengenai perekonomian global di tahun ini akan berkontraksi atau minus 4,9%, lebih dalam ketimbang proyeksi yang diberikan pada April lalu sebesar minus 3%,” ujar Alwi, seperti dikutip Kontan.

Sedangkan pada perdagangan hari ini, Alwi menilai rupiah bakal lebih banyak dipengaruhi sentimen risk off dan risk on. Apabila sentimen risk off yang muncul, maka USD dapat menguat dan menekan rupiah. “Kabar baiknya adalah sentimen risk on kali ini muncul lagi di pasar, setelah bank sentral Eropa meluncurkan kebijakan fasilitas repo untuk menyediakan likuiditas euro kepada bank-bank sentral di luar wilayah euro. Langkah ini merupakan upaya untuk mendukung ekonomi dan mendanai pasar di tengah pandemi ,” katanya.

Loading...