Rupiah Keok di Awal Dagang Nantikan Data Inflasi AS

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 22,5 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp14.105 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (26/2). Kemarin, Kamis (25/2), mata uang Garuda berakhir terapresiasi tipis 2,5 poin atau 0,02 persen ke angka Rp14.082,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah tipis. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,04 persen ke level 90,1344 karena para pelaku tengah mencerna data klaim pengangguran Amerika Serikat yang baru saja dirilis.

Pada Kamis (25/2), Departemen Amerika Serikat melaporkan bahwa data klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur angka PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), turun sebesar 111.000 menjadi 730.000 pada pekan yang berakhir 20 Februari 2021. Klaim tersebut diharapkan mencapai total 845.000 pada seminggu terakhir.

Dari dalam negeri, pergerakan rupiah pada hari Jumat ini kemungkinan akan ditentukan oleh data Amerika Serikat. Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, rupiah hari ini berpotensi untuk melemah. Pasalnya, data AS akan berada di atas perkiraan pasar sehingga membuat rupiah tertekan di pasar spot.

“Proyeksi pasar, inflasi AS akan ada di kisaran 1,4%. Namun, saya melihat besok datanya akan lebih tinggi dari angka tersebut dan pada akhirnya membuat rupiah tertekan,” jelas Ahmad, seperti dilansir Kontan.

Dengan data inflasi AS yang melampaui konsensus pasar, Ahmad menilai reli yield US Treasury pun kembali berlanjut. Kondisi itulah yang pada akhirnya mengakibatkan Indonesia terkoreksi dan mendorong para investor asing untuk keluar dari pasar dalam negeri.

Sedangkan analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf memiliki pendapat yang berbeda. Alwi justru memprediksi situasi pasar sekarang mendukung aset berisiko. Hal ini merujuk pada pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang kembali menegaskan bahwa AS akan tetap pada level rendah dan The Fed akan terus membeli obligasi untuk mendukung ekonomi AS. 

“Powell juga mengatakan bahwa mungkin diperlukan lebih dari tiga tahun untuk mencapai target inflasi yang ditetapkan . Sementara dari dalam negeri, program vaksinasi tahap kedua juga mendukung sentimen untuk rupiah,” tutupnya.

Loading...