Rupiah Rebound di Tengah Transisi Pemerintahan Trump-Biden

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

Jakarta – Kurs rupiah dibuka menguat sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp14.145 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (25/11). Sebelumnya, Selasa (24/11), Garuda berakhir terdepresiasi 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.155 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,31 persen menjadi 92,214 usai menginjak level terendah 3 bulan pada 92,013, Senin (23/11). Dolar bertahan di atas dukungan teknis utama sekitar 92, yang menurut para analis bakal menyebabkan penurunan lanjutan apabila ditembus.

Dolar terkoreksi saat selera risiko meningkat usai Donald Trump menerima transisi ke kepresidenan Joe Biden dan dengan optimisme bahwa virus corona (Covid-19) bakal segera diluncurkan. Trump mengatakan bahwa Kepala Administrasi Umum (GSA) harus melanjutkan transisi ke pemerintahan yang dipimpin oleh terpilih Joe Biden, walau ada rencana untuk melanjutkan tantangan hukum terhadap hasil pemilu.

“Kami memiliki dua peristiwa berisiko besar yang ditarik, yang pertama bahwa Pemerintahan Trump tidak akan mengizinkan transisi yang tertib, dan juga tentang vaksin. Pengumuman vaksin selama beberapa minggu terakhir ini telah melampaui perkiraan para ahli kesehatan yang paling optimis,” ungkap Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya, di New York, seperti dilansir Antara.

Sedangkan dari dalam negeri, Analis Monex Investindo Futures Faisyal berpendapat bahwa secara fundamental rupiah harusnya dapat menguat. Data ekonomi yang mendukung adalah surplus neraca transaksi berjalan senilai USD1 miliar dolar AS pada kuartal ketiga tahun 2020. Sentimen eksternal juga cenderung memberi dukungan untuk penguatan rupiah. Misalnya stimulus yang bakal AS lakukan akan membuat USD melemah.

“Joe Biden yang menunjuk Janet Yellen sebagai menteri keuangan AS juga memberi optimisme pada penguatan rupiah. Rupiah juga berpotensi menguat karena capital inflow masih terjadi di pasar saham dan obligasi Indonesia,” kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dikutip Kontan.

Loading...