Permintaan Safe Haven Meningkat, Rupiah Pagi Ini Melemah Terhadap Dolar AS

Rupiah - pekanbaru.tribunnews.comRupiah - pekanbaru.tribunnews.com

Jakarta pagi ini, Rabu (24/3), dibuka melemah sebesar 26 poin atau 0,18 persen ke level Rp14.422,5 per AS. Sebelumnya, pada hari Selasa (23/3) sore, Garuda berakhir terapresiasi sebesar 10,5 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.396,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama saat ini terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan melonjak 0,65 persen menjadi 91,8 lantaran para pelaku pasar tengah mencari aset berlindung yang aman (safe haven) pada dolar AS. Penguatan USD tersebut melampaui level tertinggi dua minggu.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi Amerika Serikat turun menjadi 1,624 persen setelah Ketua AS Jerome Powell mengatakan pada Kongres bahwa tak akan lepas kendali. Pada Selasa (23/3) pagi, surat utang negara menarik permintaan yang kuat untuk yang bertenor 2 tahun, dengan investor menunggu lelang obligasi pemerintah untuk yang bertenor lebih lama pada pekan ini.

“Ini lebih tentang fundamental. (Kita) memiliki banyak data untuk dicerna mulai besok,” terang Juan Perez, pedagang mata uang dan ahli strategi di Tempus Inc, seperti dikutip dari Reuters. Perez menambahkan, kenaikan dolar AS pada Selasa menunjukkan bahwa “pada akhirnya kita tidak keluar dari hal ini,” mengacu pada pandemi virus corona (Covid-19).

Rupiah sendiri hari ini diperkirakan bakal cenderung melemah terbatas. Menurut Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, gerak rupiah saat ini cukup stabil. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh yield obligasi AS yang sedang turun, sehingga meredakan kekhawatiran akan terjadinya inflasi di Amerika Serikat.

Sedangkan Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai bahwa pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil AS untuk sementara waktu. “Investor masih mencermati testimoni dari Gubernur Bank Sentral Powell, mengenai sebatas berapa imbal hasil diizinkan untuk menguat,” jelas Sutopo, seperti dikutip Kontan.

Loading...