Digempur Sentimen Negatif, Rupiah Pagi Ini Masih Belum Mampu Bangkit

Rupiah - Kabarin.coRupiah - Kabarin.co

Jakarta – Nilai tukar Garuda mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (24/6), dengan pelemahan sebesar 7,5 poin atau 0,05 persen ke angka Rp14.440 per dolar AS. Kemarin, Rabu (23/6), rupiah ditutup terdepresiasi 30 poin atau 0,21 persen ke level Rp14.432,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau sedikit menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS merangkak naik 0,06 persen ke posisi 91,798, namun bertahan di bawah level tertinggi 2 bulan di 92,408 yang dicapai pada Jumat (18/6).

Pergerakan dolar AS tersebut terjadi lantaran 2 pejabat Federal Reserve mengungkapkan bahwa periode inflasi tinggi di bisa bertahan lebih lama dari perkiraan, sehari setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengesampingkan tekanan yang meningkat. Menurut Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, dengan pertumbuhan yang naik sekitar 7,0 persen tahun ini dan inflasi jauh di atas target The Fed 2,0 persen, maka ia memperkirakan acuan perlu naik pada akhir tahun 2022.

“Keuntungan dolar telah memudar setelah Powell mengesampingkan inflasi yang lebih tinggi yang berlangsung sangat lama. Jika kita melihat tanda-tanda inflasi terdorong lebih tinggi lagi, saya pikir itu bisa menimbulkan kegelisahan inflasi lagi dan menempatkan fokus pada kebijakan Fed,” papar Joe Manimbo, analis pasar senior, di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Dari dalam negeri, jumlah kasus positif -19 yang kembali melonjak ternyata telah menekan rupiah. Selain itu, rupiah juga akibat faktor eksternal. Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, pelemahan rupiah masih dipengaruhi pernyataan hawkish pada rapat FOMC pekan lalu. Sentimen itu pula yang mengakibatkan risk appetite terhadap dolar AS meningkat. “Indeks AS kembali ke level 92, artinya AS memang menguat terhadap major currency,” ujarnya, seperti dikutip dari Kontan.

Sementara itu, Analis Monex Investindo Futures Faisyal menambahkan, pembatasan aktivitas yang lebih ketat telah memberikan sentimen negatif untuk rupiah. Gerak rupiah hari ini diperkirakan bakal dipengaruhi oleh data , jasa, dan penjualan rumah di AS. “Sejauh ini konsensus memproyeksikan data AS tersebut akan keluar dengan hasil positif,” tandasnya.

Loading...