Kurs Rupiah Dibuka Menguat 20 Poin Usai Kesaksian Powell

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

Jakarta dibuka menguat sebesar 20 poin atau 0,14 persen ke level Rp14.072,5 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (24/2). Sebelumnya, Selasa (23/2), nilai tukar Garuda berakhir terapresiasi 25 poin atau 0,18 persen ke angka Rp14.092,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,11 persen menjadi 90,141 usai Ketua AS Jerome Powell menolak pernyataan bahwa kebijakan moneter yang longgar berisiko melepaskan .

Meningkatnya kemungkinan Kongres untuk meloloskan rencana stimulus Presiden Amerika Serikat Joe Biden senilai 1,9 triliun dolar AS telah memunculkan kekhawatiran terkait kemungkinan lonjakan inflasi. Seiring dengan meningkatnya ekspektasi itu, demikian pula popularitas dari perdagangan reflasi bulan ini telah membuat dolar AS lebih rendah.

Akan tetapi, dalam pidatonya Powell mengungkapkan bahwa akan memertahankan kebijakannya karena memusatkan perhatian untuk membuat warga AS kembali bekerja. “Perekonomian masih jauh dari tujuan pekerjaan dan inflasi kami, dan kemungkinan akan membutuhkan waktu untuk mencapai kemajuan substansial lebih lanjut,” beber Powell, seperti dilansir Antara.

“Untuk dolar, belum diputuskan mengenai ke arah mana langkah besar selanjutnya, meskipun untuk saat ini, kekhawatiran inflasi dapat diimbangi oleh harapan untuk pemulihan AS yang lebih cepat, karena distribusi vaksin diperkirakan akan meningkat di minggu-minggu mendatang,” ucap Ronald Simpson, direktur pelaksana analisis mata uang global untuk Action Economics.

Di sisi lain, rupiah diprediksi dapat melanjutkan penguatan pada hari ini karena ditopang oleh sentimen eksternal. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, kinerja positif rupiah akan berlanjut hari ini. “Penguatan rupiah didukung dari faktor sentimen pasar yang dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell di Kongres. Diperkirakan, The Fed masih cenderung dovish dan mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif,” jelas Josua, seperti dikutip Kontan.

Stimulus fiskal AS juga diperkirakan dapat membuat sentimen terhadap aset negara berkembang makin membaik. “Sementara tren kenaikan harga komoditas global terutama harga minyak mentah juga turut mendorong penguatan mata uang negara penghasil komoditas,” tutup Josua.

Loading...