Aset Berisiko Masih Diminati, Kurs Rupiah Asyik Melenggang di Zona Hijau

Rupiah - ekonomi.metrotvnews.comRupiah - ekonomi.metrotvnews.com

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 65 poin atau 0,44 persen ke posisi Rp14.585 per dolar AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (23/7). Kemarin, Rabu (22/7), Garuda berakhir terapresiasi 91 poin atau 0,62 persen ke level Rp14.650 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS anjlok 0,14 persen jadi 94,9861 lantaran para tengah mempertimbangkan dampak dari lonjakan yang berkelanjutan di Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melanjutkan pengarahan persnya terkait pandemi virus corona (Covid-19) pada Selasa (21/7), mengakui bahwa situasi di negaranya akan jadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. “Krisis masih jauh dari selesai di AS dan akan meninggalkan jejak yang jelas dalam perekonomian,” kata Antje Praefcke, analis di Commerzbank Research, seperti dilansir dari Antara.

Menurut data dari Universitas Johns Hopkins, terdapat lebih dari 3,9 juta kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di AS, dengan lebih dari 142.000 kematian sampai hari Rabu (22/7) sore.

Sementara itu, dari dalam negeri rupiah diperkirakan akan kembali melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari ini. Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, sentimen pasar saat ini cukup positif terhadap sejumlah aset berisiko, termasuk mata uang rupiah.

“Optimisme pelaku pasar sedang terbentuk seiring perkembangan vaksin virus corona, sektor yang kembali dibuka dan mulai pulih, hingga kebijakan moneter dari berbagai bank sentral yang masih dovish untuk support ,” ujar Reny, seperti dilansir dari Kontan.

Reny menambahkan, tren negatif rupiah pada beberapa waktu sebelumnya sudah mulai berkurang dan justru berbalik positif terhadap rupiah ke depannya. Terlebih karena terhadap dolar AS kini juga berkurang. “Pembayaran sisa dividen sudah mulai berkurang sehingga dolar indeks pun sudah turun dalam dua hari terakhir. Dari dalam negeri juga, inflow dana asing perlahan mulai masuk, baik dari pasar obligasi dan saham, yang sepertinya berpotensi berlanjut,” tandas Reny.

Loading...