Data Makroekonomi Indonesia Solid, Rupiah Masih Bertahan di Zona Hijau

Mata Uang Rupiah - berita.baca.co.idMata Uang Rupiah - berita.baca.co.id

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 4,5 poin ke level Rp13.641,5 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (23/1), kemudian lanjut naik 7 poin atau 0,05 persen menjadi Rp13.639/USD. Kemarin, Rabu (22/1), Garuda berakhir terapresiasi 23 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp13.646 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau stagnan. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, kurs dolar AS relatif tidak berubah di posisi 97,534 lantaran permintaan terhadap mata uang safe haven berkurang. Indeks dolar AS pun bergerak stabil karena berkurangnya kekhawatiran terkait dampak penyebaran virus korona seperti flu dapat merugikan ekonomi .

Kematian karena virus mirip flu baru di mengalami kenaikan jadi 17, dengan lebih dari 540 kasus dikonfirmasi. “Kekhawatiran virus mereda sedikit dalam semalam karena pasar mendapatkan transparansi yang lebih besar di sekitar masalah dari dan negara-negara lain daripada yang mereka lakukan dengan SARS misalnya,” ujar Brad Bechtel, direktur pelaksana Jefferies di New York, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, permintaan terhadap mata uang safe haven lain juga diredam. “Bukan berarti kita keluar dari masalah ini karena saya masih memperkirakan dengung berita utama negatif sampai kita benar-benar semuanya telah teratasi tetapi untuk sekarang semuanya sudah beres,” ungkapnya.

Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, penguatan rupiah didukung oleh sentimen internal dan eksternal. “Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan di Davos, menyatakan kesepakatan dagang tahap dua akan segera dilaksanakan. Ini mengangkat selera berisiko para pelaku pasar,” ujar Alwi, seperti dilansir Kontan.

Selain itu, di dalam negeri pun cadangan devisa yang besar juga ikut menopang laju rupiah. Ekonom Pefindo Fikri C Permana menambahkan, data makro ekonomi pun menunjukkan angka yang solid, terutama imbal balik obligasi. “Sepertinya spread yield antara SUN dan US treasury masih menjadi hal yang menarik capital inflow ke . Hal ini yang menyebabkan rupiah terapresiasi hari ini, walau penguatannya tipis,” tuturnya.

Akan tetapi, pada perdagangan hari ini Alwi memperkirakan rupiah berpeluang melemah akibat penyebaran virus Corona di China. “Penyebaran virus menjadi sentimen pemberat bagi aset berisiko sekaligus menguntungkan safe haven. Dolar AS sebagai salah mata uang safe haven akan dilirik terlebih jika kekhawatiran semakin meningkat,” ungkapnya.

Loading...