Investor Ramai-ramai Beralih ke Saham, Rupiah Manfaatkan Peluang untuk Rebound

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (22/7), dengan penguatan sebesar 42,5 poin ke angka Rp14.500 per AS. Kemudian, lanjut menguat 27,5 poin atau 0,19 persen ke Rp14.515/USD. Kemarin, Rabu (21/7), Garuda berakhir terdepresiasi 25 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.542,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS melorot 0,2 persen menjadi 92,755. Nilai dolar AS turun dari level tertinggi lebih dari 3 bulan lantaran selera risiko kembali dengan saham-saham lebih tinggi, walaupun masih berhati-hati di tengah kekhawatiran inflasi dan munculnya varian baru yang sangat menular.

Para pelaku pasar sendiri masih tetap bullish terhadap prospek dolar AS, setidaknya hingga beberapa bulan ke depan. “Antara diferensial imbal hasil dan permintaan safe-haven yang didorong oleh COVID, dolar AS telah menjadi primadona bola valas minggu ini. Tema-tema ini akan terus mendukung dolar dalam beberapa minggu mendatang, tetapi pemulihan selera risiko pasar, terutama jika didorong oleh stimulus moneter atau fiskal tambahan dari AS, akan melemahkan tren kekuatan yang baru lahir pada greenback,” ucap Kepala Riset Pasar FOREX.com dan City Index, Matt Weller, seperti dilansir Antara.

Langkah-langkah stimulus Federal Reserve atau pelonggaran kuantitatif telah menahan dolar AS karena meningkatkan pasokan mata uang dalam sistem keuangan. “Saat ini kami memiliki inflasi tinggi di AS yang membuat pintu terbuka bagi The Fed untuk mengurangi stimulus,” jelas Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington.

Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, investor saat ini masih khawatir dengan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. Hal itu pula yang akan memengaruhi gerak rupiah. Selain itu, ada permintaan yang tinggi terhadap dolar AS sebagai mata uang safe haven, seiring dengan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat. “Seiring recovery ekonomi yang berjalan di AS, mata uangnya juga mengalami apresiasi sehingga dianggap sebagai aset yang aman oleh investor sehingga cenderung dicollect oleh investor,” papar Reny, seperti dikutip Kontan.

Loading...