Kanada Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga, Kurs Rupiah Rebound di Awal Dagang

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 17,5 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp14.512,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (22/4). Kemarin, Rabu (21/4), Garuda berakhir terdepresiasi sebesar 32,5 poin atau 0,22 persen ke level Rp14.530 per USD.

Sementara itu, indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau sedikit melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun tipis 0,09 persen jadi 91,1560 usai Kanada (BoC) mengisyaratkan untuk memulai kenaikan pada tahun 2022 mendatang dan mengurangi cakupan program pembelian asetnya.

Sebelumnya, dolar AS sempat bangkit dari level terendah 7 pekan terhadap mata uang lainnya semalam, lantaran pelemahan lebih luas di saham yang dipicu oleh kebangkitan kembali kasus Covid-19 di India dan Jepang yang mendorong mundurnya daya tarik safe haven dari greenback.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mengadakan pertemuan pada minggu depan dan Bank Sentral Eropa (ECB) akan memutuskan kebijakannya pada Kamis. “Meskipun tidak ada yang diharapkan memberi sinyal perubahan kebijakan sekarang, pedagang dapat menahan diri dari taruhan besar selama beberapa hari. Saya pikir pasar hanya akan memainkannya dengan hati-hati jika Fed mengubah kebijakannya,” ucap Analis Pasar Senior Western Union Business Solutions, Joseph Manimbo, seperti dilansir Antara.

Dari dalam negeri, karena minimnya rilis data ekonomi mengakibatkan rupiah berpotensi untuk kembali terkoreksi secara teknikal. Sentimen kekhawatiran akan jumlah kasus positif Covid-19 yang meningkat juga dapat menahan laju rupiah. Menurut Ekonom Bank Central (BCA) David Sumual, pelemahan rupiah kemarin terjadi karena dipicu oleh sentimen teknikal. Di samping itu, rupiah juga terperosok akibat sentimen menjelang Hari Raya Idul Fitri yang membuat impor naik.

Analis Monex Investindo Futures Andian Wijaya sependapat bahwa melemahnya rupiah di perdagangan sore kemarin bukan karena data ekonomi, tetapi sentimen pasar terhadap dolar AS. Semalam Wall Street menurun dan memicu reaksi profit taking (ambil untung) dari level rekor tertinggi bursa Amerika Serikat di minggu lalu. “Aksi ambil untung tersebut menopang penguatan dolar AS dan rupiah melemah,” tandasnya, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...