Dolar Melempem Jelang Pilpres, Rupiah Lanjut Menguat di Awal Dagang

Rupiah - geotimes.co.idRupiah - geotimes.co.id

Jakarta dibuka menguat sebesar 22,5 poin ke level Rp14.635 per dolar AS di awal pagi hari ini, Rabu (21/10). Kemudian lanjut menguat 11 poin atau 0,08 persen ke Rp14.646,5/USD. Sebelumnya, Selasa (20/10), Garuda ditutup terapresiasi 50 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.657,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun ke angka 92,991, mencapai level terendah satu bulan saat tengah menantikan hasil pembicaraan stimulus fiskal menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat dan lonjakan kasus virus corona (Covid-19) di Eropa.

Kurs dolar turun untuk hari kedua berturut-turut ketika Ketua DPR Nancy Pelosi optimis bahwa Demokrat bisa mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump terkait bantuan tambahan Covid-19 yang dapat diperoleh awal bulan depan.

“Anda harus memikirkan pelemahan dolar AS sebagai perlengkapan yang mungkin lebih tahan lama,” ucap Yousef Abbasi, ahli strategi pasar di StoneX, seperti dilansir Antara. Di sisi lain, pembahasan mengenai stimulus fiskal masih belum mencapai kesepakatan, sehingga pasar memperkirakan keputusannya bisa melampaui pilpres 3 November 2020.

“Kisah stimulus paling optimis adalah kisah stimulus ‘gelombang biru’: Biden mendapatkan Gedung Putih, Senat berubah menjadi Demokrat, dan boom, kita membuka 4 triliun hingga 5 triliun dolar AS dalam pembelanjaan pada 2021, terkait dengan stimulus, beberapa inisiatif Biden tentang infrastruktur, energi hijau dan hal-hal semacam itu,” bebernya.

Sedangkan rupiah sendiri hari ini diperkirakan akan kembali menguat. Ekspektasi stimulus AS akan meluncur sebelum pemilihan presiden telah mendorong minat pasar terhadap aset berisiko, termasuk rupiah. “Di akhir sesi perdagangan , mata uang dolar AS dan yen cenderung melemah. Hal tersebut mengindikasikan pelaku pasar saat ini sedang kembali masuk ke aset berisiko termasuk rupiah,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, seperti dilansir Kontan.

Di samping itu, dari dalam negeri menurut Ariston demo penolakan UU Cipta Kerja kini sudah mulai terkendali dan menambah sentimen untuk rupiah. Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual menambahkan, sentimen yang akan menopang rupiah hari ini adalah pertumbuhan China sebesar 4,9 persen pada kuartal III 2020. “Mata uang yuan jadi cenderung menguat dampaknya mata uang emerging market lain, seperti rupiah cenderung bergerak stabil dan menguat,” kata David.

Loading...