Kurs Rupiah Pagi Ini Melemah di Tengah Rebound Dolar AS

Rupiah - www.lintasgayo.comRupiah - www.lintasgayo.com

Jakarta – Nilai tukar mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (21/4), dengan pelemahan sebesar 27,5 poin atau 0,22 persen ke angka Rp14.525 per . Sebelumnya, Selasa (20/4), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 50 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.497,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS rebound 0,2 persen jadi 91,204 usai menyentuh level terendah dalam 6 minggu. Gerak tersebut terjadi ketika di AS bergerak dalam kisaran ketat dan penurunan minyak telah menghantam mata uang terkait minyak mentah.

Dolar merosot pada April 2021 lantaran imbal hasil Amerika Serikat melorot dari level tertinggi 14 bulan di 1,776 persen yang dicapai bulan lalu. Penurunan mata uang dan imbal hasil tersebut adalah bukti kuat bahwa Federal Reserve akan lebih lambat dalam memperketat kebijakan moneter dibanding yang tampak di . Imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun jadi 1,57 persen usai diperdagangkan pada kisaran sempit sekitar 1,60 persen.

“Pasar mata uang dan suku bunga bisa relatif tenang selama beberapa minggu lagi karena Fed dan Eropa masing-masing meluangkan waktu untuk menyesuaikan kebijakan suku bunga mereka. Sebenarnya tidak ada katalis yang kuat di kedua arah bulan ini untuk benar-benar membuat kami keluar dari rentang tersebut,” ucap Mazen Issa, ahli strategi mata uang senior di TD Securities, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, gerak rupiah hari ini diperkirakan akan bergantung pada data eksternal, misalnya hasil lelang obligasi AS yang digelar pada Selasa (20/4) malam. Menurut Ekonom Sucor Sekuritas Ahmad Mikail, rupiah berpotensi kembali menguat lantaran pasar melihat tingkat suku bunga lelang obligasi AS sudah mulai turun dan ada di level normal.

“Tetapi, kalau melihat hasil lelang sebelumnya, saya kira tidak terjadi kenaikan suku bunga yang berarti, artinya yield US Treasury ini sudah mengalami new normal, di kisaran 1,6% untuk obligasi tenor 10 tahun,” kata Ahmad, seperti dikutip dari Kontan. Di samping itu, kebijakan (BI) yang tetap menjaga suku bunga di level rendah, yaitu 3,5 persen juga ikut menunjang gerak rupiah.

Loading...