Pasar Nantikan Hasil RDG BI, Rupiah Dibuka Melaju ke Zona Hijau

Rupiah - publiksatu.comRupiah - publiksatu.com

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 7,5 poin ke level Rp14.057,5 per AS di awal hari ini, Rabu (20/1). Kemudian, rupiah lanjut menguat 3,5 poin atau 0,02 persen ke Rp14.061,5/. Sebelumnya, Selasa (19/1), Garuda berakhir terapresiasi 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.065 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,3 persen jadi 90,531, dengan risiko yang lebih luas berubah jadi lebih positif lantaran menyambut baik komentar calon Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengenai perlunya stimulus fiskal yang besar.

Pada Januari 2021 USD terbantu dengan meningkatnya imbal hasil surat utang negara Amerika Serikat dan sejumlah yang berhati-hati terkait kekuatan pemulihan kondisi ekonomi dari pandemi (Covid-19). Namun sebagian besar analis bertahan dengan seruan mereka untuk dolar AS yang lebih lemah dari sini.

Pada Selasa (19/1), Yellen berpidato di hadapan Komite Keuangan Senat dan mendesak para anggota parlemen untuk bertindak besar pada paket bantuan Covid-19 berikutnya. Ia juga mengatakan bahwa hal itu manfaatnya lebih besar dibanding biaya beban utang yang lebih tinggi.

“Sepertinya risiko mendapat dukungan yang lebih baik hari ini. Ekspektasi kembali ke gagasan stimulus fiskal AS yang cepat. Ada pemahaman yang sedang berlangsung bahwa ada dukungan untuk stimulus fiskal yang besar dan dukungan bipartisan yang luas di Senat, sebagai lawan dari proses rekonsiliasi yang panjang,” tutur kata Simon Harvey, analis pasar valas senior di Monex Eropa di London, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, rupiah diprediksi akan tetap stabil pada perdagangan hari ini di tengah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada Rabu (20/1). Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, rupiah cenderung stagnan menjelang pengumuman suku bunga acuan BI. Selain itu, rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal.

“Politik di AS sedang memanas kembali jelang inaugurasi Joe Biden. Selain itu, lonjakan kasus Covid-19 secara global juga masih menjadi sorotan utama pelaku pasar,” kata David, seperti dikutip Kontan. Ia juga memperkirakan bahwa suku bunga acuan BI tidak berubah.

Loading...