Stimulus Fiskal AS Masih Belum Jelas, Rupiah Sedikit Melorot di Pembukaan

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 7,5 poin atau 0,05 persen ke level Rp14.842,5 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (2/10). Kemarin, Kamis (1/10), Garuda berakhir terapresiasi 45 poin atau 0,30 persen ke posisi Rp14.835 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,1 persen menjadi 93,722 usai sebelumnya anjlok ke angka 93,522 yang merupakan level terlemah sejak 22 September 2020. Pelemahan dolar AS ini terjadi karena harapan stimulus fiskal AS menyemangati para dan mendorong mereka untuk mencari mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi namun lebih berisiko.

Di sisi lain, data terbaru China pada Rabu (30/9), menunjukkan pemulihan ekonominya ada di jalur yang benar. Kemudian Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin rupanya masih jauh dari kesepakatan terkait bantuan (Covid-19) di sejumlah bidang penting pada Kamis (1/10), usai diskusi telepon gagal mencapai jalan tengah terkait apa yang digambarkan Pelosi sebagai perbedaan atas dolar AS dan nilai.

Kongres Demokrat sudah mengusulkan stimulus senilai 2,2 triliun dolar AS untuk menangani pandemi, sedangkan Partai Republik menyarankan stimulus sebesar 1,6 triliun dolar AS. “Kedua pihak memiliki banyak sinyal, seperti burung merak yang sedang berjalan-jalan. Jika kita tidak mendapatkan apapun sebelum pemilihan, kita akan mendapatkan sesuatu setelahnya. Namun saat memasuki periode baru, masyarakat masih ingin membeli ekuitas dan mengambil risiko,” ujar Marc Chandler, kepala , di Bannockburn Forex di New York, seperti dilansir Antara.

Rupiah sendiri hari ini tampaknya diperkirakan akan terseret oleh sentimen eksternal. Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail Zaini, hari ini rupiah bakal melemah karena belum adanya kesepakatan tentang stimulus fiskal AS. Terlebih dengan tarik ulur antara DPR AS dan pemerintah Donald Trump kembali terjadi.

Sebaliknya, Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong justru berpendapat rupiah masih berpeluang menguat. “Secara teknikal potensi rupiah kembali menguat terbatas pada hari ini,” beber Lukman, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...