Dolar AS Sedang Loyo, Rupiah Menguat 10 Poin di Pembukaan Pagi Ini

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta – Kurs dibuka sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke angka Rp14.120 per di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (2/12). Sebelumnya, Selasa (1/12), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.130 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,7 persen jadi 91,318 usai mencapai 91,263, level terendah sejak April 2018. Penurunan USD ini terjadi ketika minat terhadap mata uang berisiko mengalami peningkatan di tengah prospek stimulus fiskal lebih lanjut dari Amerika Serikat dan ekspektasi pemulihan kondisi yang solid.

Kabar terkait RUU Covid-19 yang diusulkan semakin menjatuhkan dolar AS, demikian pula dimulainya kembali perbincangan antara Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nancy Pelosi pada Selasa (1/12) terkait paket stimulus. RUU bantuan yang diusulkan sebesar 908 miliar dolar AS akan mendanai langkah-langkah hingga 31 Maret 2021, termasuk 228 miliar dolar AS dana perlindungan gaji tambahan untuk hotel, restoran, dan bisnis kecil lainnya.

“Pedagang sedang mencari alasan untuk memburu mata uang berisiko dan itu datang dengan mengorbankan dolar. Ketika Anda mendapatkan laporan bahwa kesepakatan stimulus bipartisan dapat dilakukan setelah harapan pupus, itu hanyalah alasan lain untuk mengajukan tawaran berisiko dan menjual dolar,” ucap John Doyle, wakil presiden transaksi dan perdagangan di Tempus, Inc. di Washington, seperti dilansir Antara.

Pada perdagangan hari ini, peluang rupiah untuk menguat masih terbuka lebar di tengah meningkatnya kasus positif virus (Covid-19). Menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, secara fundamental rupiah harusnya menguat lantaran dolar AS masih dalam tren tertekan selama Federal Reserve (The Fed) masih akan melonggarkan kebijakan moneter.

Sayangnya, peluang penguatan rupiah terganggu oleh kekhawatiran investor terkait lonjakan kasus Covid-19. “Bila terus bertambah investor khawatir PSBB ketat akan kembali diterapkan,” ungkap Faisyal, seperti dikutip Kontan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede sependapat bahwa rupiah berpotensi menguat berkat dukungan saham yang kembali menghijau dan hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang mencapai Rp94 triliun. “Apalagi, perkembangan pengadaan dari AS yang diperkirakan selesai sebelum Natal juga harusnya membawa sinyal risk on dan menguntungkan rupiah,” tandas Josua.

Loading...