Imbal Hasil US Treasury Kerek Dolar, Rupiah Keok di Awal Perdagangan

Rupiah - ekbis.sindonews.comRupiah - ekbis.sindonews.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 10 poin ke angka Rp14.420 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (19/3). Kemarin, Kamis (18/3), kurs Garuda ditutup terapresiasi 17,5 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp14.410 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,53 persen jadi 91,853 usai melemah 0,56 persen ke level terendah 2 pekan di 91,30 pada awal sesi perdagangan.

Amerika Serikat tengah menuju pertumbuhan terkuat dalam hampir 40 tahun, bahkan saat para pembuat kebijakan berjanji untuk tetap bertahan walaupun diprediksi ada lonjakan inflasi, demikian kata Federal Reserve pada Rabu (17/3).

Sedangkan inflasi diperkirakan bakal melonjak jadi 2,4 persen tahun 2021 ini, melebihi target sebesar 2,0 persen. Ketua Jerome Powell menyatakan bahwa hal itu adalah lonjakan sementara yang tak akan mengubah komitmen dalam memertahankan acuan mendekati nol.

sedang bermain-main dengan The Fed, bertaruh bahwa fungsi reaksi bank sentral akan berkembang setelah kebijakan ultra-dovish hari ini berhasil menghasilkan inflasi di atas target. Para pedagang pada dasarnya bertaruh bahwa Powell akan berhasil membuktikan dirinya salah. Ini memiringkan perbedaan suku bunga demi dolar dan menghancurkan mata uang yang sensitif terhadap suku bunga secara global,” ungkap Karl Schamotta, kepala strategi di Cambridge Global Payments, seperti dilansir Antara.

Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana, hari ini rupiah akan dipengaruhi sentimen yield US Treasury, yield SBN, dan minyak . “US Treasury sepertinya masih akan seiring dengan pernyataan gubernur The Fed yang menyebut inflasi akan naik pada tahun ini. Hal ini akhirnya harus dikompensasi dengan kenaikan yield US Treasury yang berdampak pada penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan menekan rupiah,” kata Fikri, seperti dikutip dari Kontan.

Di sisi lain, Fikri yakin bahwa secara fundamental rupiah masih cukup baik. Ia juga memprediksi neraca perdagangan pada Maret 2021 akan kembali positif seiring dengan membaiknya harga komoditas. Namun, apabila harga minyak kembali naik, maka rupiah kemungkinan bakal tertekan.

Loading...