Prospek Ekonomi AS Suram, Rupiah Menguat di Jumat Pagi

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

Jakarta – Nilai tukar dibuka menguat sebesar 21 poin ke level Rp14.062,5 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (19/6). Kemudian, rupiah lanjut naik 12,5 poin atau 0,09 persen menjadi Rp14.065/. Kemarin, Kamis (18/6), Garuda berakhir terapresiasi 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.077,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS merangkak naik 0,38 persen jadi 97,437 lantaran kekhawatiran terkait kenaikan kasus baru (Covid-19) secara global dan klaim pengangguran Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan telah mendorong permintaan mata uang safe haven.

Adapun jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran mengalami penurunan pada pekan lalu, namun laju penurunannya terhenti pada tengah gelombang kedua PHK karena perusahaan-perusahaan menghadapi permintaan yang lemah dan rantai pasokan yang putus. Hal ini sekaligus mendukung anggapan bahwa ekonomi mungkin mengalami masa pemulihan panjang dan sulit dari resesi.

“Pergerakan greenback lebih tinggi terjadi karena pembelian safe-haven baru menyusul kenaikan indeks Philly Fed yang jauh lebih baik, meskipun klaim pengangguran secara signifikan lebih tinggi dari yang diperkirakan, dan karena meningkatnya kekhawatiran tentang penyebaran virus corona di AS dan wilayah lain di seluruh dunia,” ungkap analis di Action Economics, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, rupiah diperkirakan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan akhir pekan ini karena didukung oleh sentimen internal dan eksternal. Menurut Analis Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, eksternal akan lebih banyak memengaruhi gerak rupiah hari ini. “Rupiah menguat karena eksternal, terkait prospek pelemahan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kembali menekan dolar AS,” ujar Reny, seperti dikutip dari Kontan.

Reny menambahkan, jika tren penurunan dolar AS berlanjut, maka akan mendorong capital inflow ke emerging market termasuk Indonesia. Selain itu, faktor dalam negeri seperti keputusan (BI) menurunkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sesuai ekspektasi pasar, yakni 25 basis poin (bps) juga mendorong rupiah untuk menguat.

Loading...