BI Diprediksi Tahan Suku Bunga, Rupiah Pagi Ini Jatuh Tersungkur

Rupiah - www.sindonews.comRupiah - www.sindonews.com

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (18/11), dengan pelemahan sebesar 55 poin ke level Rp14.055 per AS. Kemudian lanjut melemah 5 poin atau 0,04 persen menjadi Rp14.060/USD. Sebelumnya, Selasa (17/11), kurs mata uang Garuda berakhir terapresiasi 55 poin atau 0,39 persen ke posisi Rp14.055 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terkoreksi 0,1 persen menjadi 92,426 ketika perdagangan lesu akibat terbebani optimisme (Covid-19) kedua. Sementara itu, prospek mata uang pun tetap suram dengan Federal Reserve dan Kongres Amerika Serikat siap melakukan lebih banyak hal guna meredam kerusakan ekonomi akibat pandemi.

Sebagai , produsen Moderna menjadi farmasi AS kedua dalam sepekan yang melaporkan hasil positif dari uji coba vaksin COVID-19. “Kisah kuncinya masih tentang COVID-19 dan tekanan jangka pendek yang akan ditimbulkannya tidak hanya di AS, tetapi juga di luar negeri. Dan itu akan memaksa Kongres atau Federal Reserve untuk berbuat lebih banyak,” kata Edward Moya, analis senior di OANDA di New York.

“Apakah kita mendapatkan stimulus setelah ( terpilih) Joe Biden menjabat atau apakah Fed berbuat lebih banyak, lintasan untuk dolar cukup jelas: itu akan jauh lebih rendah,” imbuhnya.

Di sisi lain, rupiah hari ini diprediksi berpeluang untuk menguat lagi karena didorong sentimen internal dan eksternal. Salah satu penyebabnya karena perkembangan vaksin Covid-19 dari Moderna. “Hasil dari Moderna ini menambah kepercayaan pasar bahwa vaksin akan segera dirilis dan ekonomi bisa segera pulih sehingga harga aset-aset berisiko bergerak menguat menanggapi berita ini. Selain itu, proyeksi pertumbuhan positif ekonomi Indonesia di kuartal IV-2020 oleh BI juga memberikan sentimen positif ke rupiah,” kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, seperti dikutip Kontan.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menambahkan, rapat dewan gubernur (BI) diprediksi masih akan menahan suku bunga acuan, sehingga sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal ini pula yang dinilai dapat menarik minat untuk masuk ke Indonesia.

Loading...