Pulih, Posisi Rupiah Berangsur-Angsur Membaik di Awal Perdagangan

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

Jakarta dibuka menguat sebesar 87,5 poin atau 0,58 persen ke posisi Rp15.085 per di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (18/3). Sebelumnya, Selasa (17/3), mata uang Garuda mengakhiri perdagangan dengan pelemahan cukup dalam sebesar 240 poin atau 1,61 persen ke level Rp15.173 per .

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 1,51 persen jadi 99,5654 lantaran para mengharapkan akan ada lebih banyak upaya dari dan pembuat moneter untuk meredam dampak ekonomi dari pandemi virus .

Pada Selasa (17/3), pemerintahan Trump mengungkapkan niatnya untuk menawarkan pembayaran tunai bagi para pekerja Amerika Serikat sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi di tengah kejatuhan karena virus corona. “Kami akan segera mengirimkan cek ke warga Amerika,” ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, seperti dilansir Xinhua melalui Antara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada Senin (16/3), bahwa ekonomi AS mungkin menuju resesi dan wabah Covid-19 bisa saja berlangsung selama berbulan-bulan. Pada Minggu (15/3) lalu, Federal Reserve memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin mendekati nol dan berjanji untuk meningkatkan kepemilikan obligasi setidaknya 700 miliar dolar AS.

Di perdagangan kemarin rupiah melemah karena korban virus corona di Indonesia yang bertambah. Menurut Analis Monex Investindo Faisyal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terdampak sehingga investor asing berbondong-bondong melakukan aksi jual. “Virus corona membuat rupiah merana,” ungkap Faisyal.

Tak jauh berbeda, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan bahwa sentimen utama penggerak rupiah masih dipengaruhi oleh virus corona. Jumlah korban yang terus meningkat telah menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku .

Oleh sebab itu bank sentral di beberapa negara sudah melakukan penurunan suku bunga untuk menstabilkan ekonomi. Faisyal mengatakan, pasar kini tengah menantikan langkah Bank Indonesia. “Kemungkinan BI untuk memangkas suku bunga akan sedikit terhambat oleh tekanan stabilitas mata uang,” imbuh Josua.

Loading...