The Fed Tahan Suku Bunga Sampai 2023, Rupiah Rebound di Kamis Pagi

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 47,5 poin atau 0,33 persen ke level Rp14.380 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (18/3). Kemarin, Rabu (17/3), Garuda berakhir terdepresiasi 17,5 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp14.427,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS melorot 0,5 persen jadi 91,405 karena kini sedang mencerna hasil keputusan kebijakan terbaru dari . Bank sentral AS menyatakan pihaknya tidak memperkirakan untuk menaikkan sampai tahun 2023 mendatang, berlawanan dengan harapan pasar.

Dalam pernyataannya, The Fed memertahankan suku bunga stabil serta berharap lonjakan cepat dalam pertumbuhan Amerika Serikat dan inflasi tahun ini akibat krisis Covid-19. The Fed juga berjanji untuk menahan suku bunga acuan mendekati nol hingga bertahun-tahun yang akan datang. “Memajukan median perkiraan untuk kenaikan suku bunga pertama hingga tahun 2023 tidak akan sesuai dengan narasi Ketua Fed Jerome Powell,” ujar ING dalam catatan , seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Walau demikian, analis tak memandang pernyataan The Fed tersebut sebagai katalisator untuk dimulainya kembali tren pelemahan dolar AS seperti yang tampak pada awal tahun. “Saya tidak berpikir ini akan mengembalikan dolar ke tren turun,” imbuh Mazen Issa, analis mata uang senior di TD Securities.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menilai jika rupiah akan cenderung melemah pada perdagangan hari ini. Selain hasil FOMC meeting, pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI terkait suku bunga acuan. “Ekspektasi pasar sejauh ini memang tidak akan ada perubahan suku bunga acuan. Hanya saja, terkadang ada pernyataan atau kebijakan yang mungkin bisa menjadi penggerak pasar,” tutur David, seperti dikutip Kontan. Selain hasil rapat, David berpendapat bahwa tak akan ada sentimen yang signifikan untuk menggerakkan rupiah.

Loading...