Masih Terkena Efek FOMC, Kurs Rupiah Dibuka Melemah 20 Poin

Mata Uang Rupiah - berita.baca.co.idMata Uang Rupiah - berita.baca.co.id

Jakarta mata uang Garuda dibuka melemah sebesar 20 poin atau 0,14 persen ke angka Rp14.375 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (18/6). Kemarin, Kamis (17/6), kurs ditutup terdepresiasi cukup dalam sebesar 117,5 poin atau 0,83 persen ke posisi Rp14.355 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,53 persen menjadi 91,892, level tertinggi sejak pertengahan April 2021. Kenaikan dolar AS ini terjadi sehari usai mengejutkan pasar dengan memproyeksikan kenaikan dan mengakhiri pembelian obligasi darurat lebih cepat dari perkiraan.

Pada Rabu (16/6), pejabat The Fed memprediksi jadwal yang dipercepat untuk kenaikan suku bunga, memulai pembicaraan terkait bagaimana mengakhiri pembelian obligasi darurat, dan mengatakan bahwa pandemi Covid-19 tak lagi menjadi kendala utama dalam perdagangan Amerika Serikat.

“Menjelang pertemuan Fed, kami merasa ada risiko hasil yang lebih hawkish yang dapat mendorong penguatan dolar AS jika itu terjadi. Oleh karena itu, kami melakukan perlindungan jika hal itu terjadi,” ujar Associate Portfolio Manager Manulife Asset Management, Chuck Tomes, di Boston, seperti dilansir Antara. Akan tetapi, Tomes menilai dolar AS akan melemah dalam jangka panjang.

Sementara itu, rupiah masih berpeluang untuk kembali melemah pada perdagangan hari ini. Koreksi rupiah ini terutama diakibatkan oleh efek Federal Open Market Committee (FOMC). Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, sentimen bernada hawkish dari The Fed masih akan menekan rupiah. Di samping itu, terdapat beberapa yang dirilis seperti angka klaim pengangguran awal yang menjadi salah satu indikator lapangan pekerjaan di Amerika Serikat.

Josua juga mengatakan, walaupun nantinya data itu lebih tinggi dari perkiraan yang biasanya disusul dengan penurunan yield US Treasury, rupiah belum akan menguat secara signifikan. “Sentimen dari The Fed masih berpotensi menjadi kontributor pelemahan rupiah, setidaknya hingga hari Jumat,” tandas Josua, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...