Pasar Nantikan Keputusan Suku Bunga BI, Rupiah Pagi Ini Dibuka Stagnan

Rupiah - viva.co.idRupiah - viva.co.id

Jakarta dibuka stagnan atau tak berubah di level Rp14.020 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (18/2). Kemudian, rupiah lanjut melemah 2,5 poin atau 0,02 persen ke Rp14.022,5/USD. Kemarin, Rabu (17/2), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi cukup dalam sebesar 90 poin atau 0,65 persen ke posisi Rp14.020 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,25 persen menjadi 90,933, pulih dari level terendah 3 pekan pada Jumat lalu. Penguatan dolar AS terjadi karena data-data yang menggambarkan Amerika Serikat makin cerah serta tanda-tanda penguatan inflasi.

Adapun data penjualan ritel, output industri, dan produsen AS sanggup melonjak cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi dari resesi pandemi memperoleh momentum ketika pelaksanaan berlangsung. “Data penjualan ritel hari ini tidak hanya lebih kuat dari yang diharapkan, tetapi juga menghancurkan perkiraan. Sama dengan output industri,” ujar Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Forex di New York, seperti dilansir Antara.

The Fed merilis risalah pertemuan kebijakan moneter 26-27 Januari 2021, di mana para peserta mengungkapkan perlunya untuk tetap waspada di tengah tanda-tanda rebound ekonomi belakangan ini, membahas inflasi jangka pendek yang diharapkan, serta menegaskan komitmen untuk menjaga kebijakan akomodatif untuk mendukung pasar pekerjaan yang kurang bergairah. “Secara umum (risalah Fed) tidak memasukkan banyak informasi baru. Apa yang pasar nantikan adalah kesaksian Powell (Ketua Fed) minggu depan,” ucap Chandler.

Rupiah sendiri terkoreksi cukup dalam menjelang keputusan suku bunga acuan Bank (BI). Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C. Permana, rupiah cenderung melemah karena ekspektasi BI bakal memangkas suku bunga acuannya.

Selain itu, sentimen eksternal juga ikut menekan rupiah. “Spread yield US Treasury dengan yield Surat Utang Negara (SUN) menurun. Tren kenaikan yield US Treasury juga cenderung membuat mengurangi risiko investasi dengan tidak masuk ke pasar emerging markets termasuk rupiah,” ucapnya. Fikri memprediksi hari ini rupiah berpotensi menguat jika suku bunga BI tetap.

Loading...