Sikap Dovish The Fed Bikin Rupiah Asyik Menghijau di Awal Dagang

mata uang rupiah - www.cnbcindonesia.commata uang rupiah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka sebesar 48 poin atau 0,32 persen ke level Rp14.795 per di awal pagi hari ini, Kamis (17/9). Kemarin, Rabu (16/9), mata uang Garuda ditutup menguat tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp14.843 per USD.

Indeks AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks AS dilaporkan naik 0,07 persen ke angka 93,19 usai Federal Reserve memutuskan untuk menahan mendekati nol dan mengungkapkan bahwa pihaknya memprediksi pemulihan ekonomi Amerika Serikat dari krisis (-19) akan berakselerasi dengan angka pengangguran turun lebih cepat dari perkiraan bank sentral pada Juni 2020.

menyatakan akan mempertahankan suku bunga pada level terendah hingga inflasi ada pada jalur untuk cukup melebihi target inflasi 2 persen untuk beberapa waktu. Pada proyeksi ekonomi baru, rata-rata memperkirakan pertumbuhan ekonomi turun 3,7 persen tahun 2020 ini, mengalami perbaikan dari penurunan sebesar 6,5 persen yang diperkirakan pada Juni 2020.

“The Fed benar-benar menekankan sikap dovish-nya dan bagaimana inflasi memegang kunci untuk prospek kebijakan. Secara keseluruhan itu sangat dovish. Tapi apa yang menjaga potensi kejatuhan dolar sejauh ini adalah bahwa Fed meningkatkan perkiraan ekonominya untuk PDB untuk 2020. Proyeksi baru adalah -3,7 persen. Itu tidak seburuk (proyeksi) dari Juni,” ucap kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra berpendapat jika kurs rupiah akan kembali menguat seiring dengan pernyataan The Fed yang cenderung dovish. “Kemungkinan masih akan pesimis dan bersikap untuk mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter dalam waktu yang lebih lama,” ujar Ariston, seperti dikutip dari Kontan.

Hal itu pula yang akan menekan dolar AS dan berdampak positif untuk aset berisiko. Terlebih karena stimulus AS diharapkan dapat mendorong pemulihan kondisi ekonomi. “Kalau memang The Fed sesuai dengan ekspektasi pasar, maka rupiah bisa saja menguat terhadap AS,” tandasnya. Pasar domestik pun kini sedang menunggu hasil rapat Bank Indonesia (BI) yang diprediksi akan kembali menahan suku bunga acuan untuk bulan ini.

Loading...