Pasar Wait and See Jelang Rapat FOMC & RDG BI, Rupiah Dibuka Melemah

Rupiah - www.businesstimes.com.sgRupiah - www.businesstimes.com.sg

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (17/3), dengan pelemahan sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp14.420 per AS. Sebelumnya, Selasa (16/3), Garuda berakhir terdepresiasi 7,5 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.410 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS bertengger di 91,866, setelah naik selama tiga sesi terakhir, menarik dukungan terutama dari kenaikan imbal hasil AS di belakang ekspektasi pemulihan yang kuat.

Pembuat kebijakan Fed diharapkan menyetujui pandangan optimis, dengan memperkirakan bahwa ekonomi AS akan tumbuh pada tahun 2021 pada tingkat tercepat dalam beberapa dekade, karena kampanye vaksinasi COVID-19 semakin cepat dan paket bantuan senilai $1,9 triliun disalurkan ke rakyat.

kemungkinan akan merevisi perkiraan ekonominya. Tetapi untuk perkiraan median pada dana Fed pada tahun 2023 yang akan dinaikkan, empat atau lebih anggota harus menaikkan proyeksi mereka. Jadi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga sebelumnya mungkin tidak divalidasi oleh Fed,” kata Shinichiro Kadota, ahli strategi mata uang senior di Barclays, seperti dilansir Reuters. “Tapi di sisi lain, Fed kemungkinan akan duduk diam pada kenaikan suku bunga jangka panjang juga,” imbuhnya.

Rupiah sendiri disebut berpeluang untuk konsolidasi pada perdagangan hari ini karena pasar sedang dalam posisi wait and see. Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, sentimen yang memengaruhi rupiah hari ini adalah rapat dari dua bank sentral. Dari sisi eksternal, akan ada FOMC meeting yang diantisipasi para investor sehingga mengambil posisi wait and see terlebih dahulu.

“Kami melihat, The Fed belum akan mengubah kebijakannya pada rapat tersebut. Suku bunga acuan kemungkinan besar masih akan dipertahankan dan kebijakan dovish yang akomodatif akan masih dilanjutkan,” kata Reny, seperti dikutip dari Kontan.

Sedangkan dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) juga digadang-gadang menjadi salah satu faktor yang menggerakkan rupiah. Reny menilai, BI masih akan menahan suku bunga acuan seiring dengan rupiah yang akhir-akhir ini tertekan sehingga memperkecil ruang penurunan suku bunga. Terlebih karena inflasi tahun ini diprediksi juga akan meningkat seiring dengan pulihnya ekonomi.

Loading...