Didukung Sentimen Domestik, Rupiah Merangkak Naik ke Level Rp14.585/USD

Rupiah - inal knRupiah - inal kn

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 40 poin atau 0,27 persen ke level Rp14.585 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (17/7). Kemarin, Kamis (16/7), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 37 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp14.625 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau naik moderat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan menguat 0,35 persen jadi 96,350 lantaran kekhawatiran terkait meningkatnya infeksi virus (-19) mendorong langkah penghindaran risiko atau risk-off yang lebih luas, sehingga mendorong ekuitas Amerika Serikat lebih rendah.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa penjualan ritel pada Juni 2020 meningkat untuk bulan kedua berturut-turut. Namun kebangkitan dalam baru Covid-19 telah mengurangi pertumbuhan yang baru muncul, sehingga membuat 32 juta warga AS menerima tunjangan pengangguran, demikian menurut laporan terpisah Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (16/7).

“Data secara umum cukup konstruktif pada penjualan ritel AS. Namun saya pikir untuk valuta asing belum benar-benar berubah,” ujar Mazen Issa, ahli strategi valuta asing senior di TD Securities, seperti dikutip dari Reuters.

Menurutnya, hal itu terjadi karena sejak posisi terbawah di pada 23 Maret, pasar valuta asing telah sangat berkorelasi dengan ekuitas. “Data itu sendiri bukan merupakan titik fokus untuk pasar uang, ini benar-benar tentang kinerja aset-aset berisiko. Dan itu telah dimotivasi oleh anggapan bahwa data yang buruk mungkin ada di bulan-bulan mendatang, bahwa Anda memiliki hambatan fiskal dan moneter,” bebernya.

Sementara itu, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk memangkas lagi suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) diprediksi masih akan membuat rupiah melemah di perdagangan hari ini. Hal itu lantaran pasar menilai pemotongan suku bunga acuan tahun 2020 ini sudah terlalu dalam. Tahun ini BI telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak 75 basis poin (bps) dan kini jadi 100 bps ke level 4%.

“Saat suku bunga dipangkas lagi, imbal hasil surat berharga negara (SBN) tentunya akan menurun, sehingga daya tarik menjadi turun dan aliran modal ke dalam negeri berisiko tertunda dan rupiah melemah,” ujar Presiden Direktur HFX International Sutopo Widodo, seperti dilansir dari Kontan.

Loading...