Rupiah Pagi Ini Melorot Tertekan Sentimen Penghindaran Risiko

Rupiah - viva.co.idRupiah - viva.co.id

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 9 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp14.699 per di awal pagi hari ini, Jumat (16/10). Kemarin, Kamis (15/10), nilai tukar Garuda berakhir terapresiasi 27,5 poin atau 0,19 persen ke angka Rp14.690 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,504 persen usai menginjak level tertinggi sepekan di posisi 93,878. Penguatan dolar AS terjadi karena tanda-tanda ekonomi AS terhenti sementara stimulus fiskal sepertinya tak mungkin terjadi sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat, sehingga membuat investor cenderung menghindari risiko.

Dolar AS menguat saat ekuitas AS turun di tengah data yang menunjukkan pemulihan kerja kehilangan tenaga, sedangkan aktivitas manufaktur di New York turun lebih besar dari perkiraan. Kemudian, klaim pengangguran mingguan naik jadi 898.000, meningkat 53.000 dari minggu sebelumnya dan di atas perkiraan 825.000. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa pandemi virus (Covid-19) mengakibatkan kerusakan permanen pada .

“Masih ada banyak jarak antara semua pihak yang memiliki peran untuk bermain dalam kesepakatan dan asumsi pasar bahwa kesepakatan akan datang lebih cepat daripada nanti sedang ditantang,” ujar manajer portofolio Keith Buchanan dari Global Investments di Atlanta, Georgia, seperti dilansir Antara. “Tantangan itu menjadi semakin jelas setiap hari yang berlalu tanpa kemajuan yang signifikan sejauh menyangkut negosiasi dan kami tidak melihatnya.”

Di sisi lain, tren rupiah dalam beberapa hari terakhir ini diprediksi kembali berlanjut di perdagangan hari ini karena ditopang sentimen dari dalam negeri. Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, rilis data neraca dagang Indonesia bakal jadi sentimen untuk rupiah. Pemerintah mengumumkan jika neraca dagang Indonesia saat ini surplus 2,44 miliar dolar AS.

“Ini menjadi katalis positif karena dari segi , kita juga mengalami kenaikan 6,97% menjadi US$14,01 miliar. Hal ini terjadi karena negara importir seperti , Amerika Serikat (AS), dan India sudah mulai pulih,” ujar Ahmad seperti dikutip dari Kontan.

Loading...