Selera Risiko Meningkat, Rupiah Rebound 10 Poin di Pembukaan Pagi Ini

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (16/12), dengan penguatan sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp14.110 per AS. Sebelumnya, Selasa (15/12), Garuda berakhir terdepresiasi 25 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp14.120 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks berada di angka 90,458, usai melorot ke 90,419 pada Senin (14/12), level yang tak terlihat sejak bulan April 2018. Penurunan ini terjadi ketika semangat meningkat menjelang kemungkinan disetujuinya RUU pengeluaran yang besar dan langkah-langkah bantuan Covid-19.

Investor juga mengharapkan isyarat berkelanjutan kebijakan moneter longgar pada pertemuan terakhir Federal Reserve (The Fed) tahun ini. Ekspektasi bahwa anggota parlemen AS dapat menyetujui pengeluaran 1,4 triliun dolar AS dan kejelasan lebih lanjut terkait distribusi virus corona telah membuat selera risiko meningkat, sehingga investor menjauhi mata uang safe haven.

“Hari ini kami hanya duduk dan menunggu, di sisi dolar, untuk berita dari Capitol Hill. Begitu hari dimulai dan saya tidak melihat ada gerakan besar yang akan mengubah pandangan untuk itu,” ujar John Doyle, wakil presiden bidang transaksi dan perdagangan di Tempus Inc di Washington, seperti dilansir Antara.

The Fed yang memulai pertemuan dua hari pada Selasa (15/12), diprediksi masih akan menahan suku bunga acuan mendekati nol dan memberi sinyal akan tetap di level tersebut selama bertahun-tahun yang akan datang. Langkah itu yang menurut para analis membuat investor makin percaya untuk mengambil risiko.

Dari dalam negeri, masih menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), sehingga gerak masih akan terhambat. Menurut Analis Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, rupiah berpotensi untuk kembali melemah dengan gerak cenderung terbatas. “Jelang RDG Bank Indonesia (BI), pelaku cenderung wait and see,” ucap Reny, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...