Dibuka Melemah, Gerak Rupiah Berbalik Menguat Tipis pada Jumat Pagi

Ilustrasi: pecahan mata uang rupiahIlustrasi: pecahan mata uang rupiah

Jakarta dibuka melemah sebesar 4 poin ke level Rp14.619 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (6/4). Tak lama kemudian, rupiah berbalik menguat tipis 5 poin atau 0,03 persen ke Rp14.610/USD. Kemarin, Kamis (5/4), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 12,5 poin atau 0,09 persen ke angka Rp14.615 per USD.

Sementara itu, indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau sedikit berubah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks mencapai level terendah 1 bulan di posisi 91,487, sebelum rebound jadi 91,608, tidak berubah pada hari itu. Pergerakan ini terjadi lantaran investor tengah menyeimbangkan bullish yang menunjukkan penjualan ritel Amerika Serikat naik paling tinggi dalam 10 bulan pada Maret 2021 terhadap penurunan lanjutan dalam imbal hasil AS.

Pada Kamis (15/4), Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel meningkat 9,8 persen pada bulan lalu, melampaui ekspektasi para ekonom untuk kenaikan di level 5,9 persen. Dalam laporan terpisah juga disebutkan, klaim awal untuk tunjangan pengangguran jatuh pekan lalu ke level terendah sejak Maret 2020, saat penutupan wajib bisnis yang tidak penting diberlakukan guna menekan penyebaran Covid-19.

“Ini adalah satu-dua pukulan dari data yang sangat positif,” ujar Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya, di New York, seperti dilansir Antara. Tetapi, penguatan dolar terbatas karena imbal hasil obligasi pemerintah turun ke level terendah satu bulan, sehingga mengurangi daya tarik relatif dolar AS.

Di sisi lain, rupiah diperkirakan akan memperoleh dukungan dari rilis data pertumbuhan ekonomi China yang kemungkinan bakal menguat. Akan tetapi, sentimen negatif terkait vaksin juga masih membayangi rupiah. Menurut Ahmad Mikail Zaini Ekonom Sucor Sekuritas, rupiah sempat melemah akibat sentimen kekhawatiran kenaikan AS. Selain itu, yield US Treasury juga stagnan di level 1,6 persen.

terhadap dolar AS juga sedang tinggi akibat adanya musim pembagian dividen. Tetapi, Mikail memperkirakan rupiah berpeluang menguat apabila rilis pertumbuhan ekonomi China positif. “Dari konsensus pertumbuhan ekonomi China akan tumbuh, yuan menguat rupiah juga menguat,” tandasnya, seperti dikutip Kontan.

Loading...