Ekspektasi Stimulus AS Makin Pudar, Rupiah Asyik Melenggang ke Zona Hijau

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 32,5 poin atau 0,22 persen ke angka Rp14.685 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (15/10). Kemarin, Rabu (14/10), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 7,5 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.717,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS anjlok 0,197 persen, sehari usai membukukan kenaikan persentase harian terbesar dalam 3 pekan.

Kurs dolar AS naik pada Selasa (13/10) lantaran dipicu oleh kekhawatiran terkait lamanya waktu sebelum vaksin virus corona (-19) akan tersedia dan berkurangnya ekspektasi bahwa paket stimulus fiskal baru akan disepakati di Amerika Serikat sebelum diselenggarakannya pemilihan presiden pada tanggal 3 November 2020 mendatang.

Akan tetapi, USD melorot dari posisi terendah sebelumnya usai Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin mengatakan dirinya dan Ketua Nancy Pelosi “berjauhan” dalam beberapa detail paket bantuan, dan kesepakatan akan sulit dicapai sebelum pemilihan. “Saat ini dolar hanya bolak-balik karena berita stimulus, dan itu tidak terlalu jauh,” ucap Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.com, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, rupiah hari ini diperkirakan akan kembali bergerak sideways. Pada perdagangan beberapa hari belakangan, rupiah memang cenderung berada pada rentang yang terbatas. Menurut Analis Kapital Investama Alwi Assegaf, tren sideway rupiah disebabkan berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri.

dari luar misalnya, nasib stimulus fiskal AS yang masih belum jelas rupanya masih menghantui pasar. Pembicaraan yang masih belum menemukan titik temu mengakibatkan para memburu dolar AS sebagai aset safe haven.

“Selain itu, dihentikannya uji coba vaksin Johnson & Johnson semakin mendorong minat safe haven dolar, karena optimisme vaksin agak memudar. Sentimen lainnya adalah proyeksi IMF, yang di satu sisi memberi dorongan bagi aset berisiko, di sisi lain justru memberi sentimen negatif ke rupiah,” ucap Alwi, seperti dikutip Kontan.

“Sementara dari dalam negeri, rencana vaksinasi di tahun 2021 turut membawa angin segar bagi rupiah. Belum lagi aksi-aksi korporasi, seperti pembentukan holding Bank Syariah BUMN dan holding . Hal ini yang membuat rupiah bertahan di tengah penguatan dolar AS,” tandasnya.

Loading...