The Fed Masih Ogah Naikkan Suku Bunga, Rupiah Asyik Melenggang ke Zona Hijau

Rupiah - citypost.idRupiah - citypost.id

Jakarta dibuka menguat sebesar 19 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.040 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (15/1). Kemarin, kurs Garuda ditutup terapresiasi tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp14.059 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terpantau melemah terhadap enam mata uang utama. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi, kurs dolar AS sedikit melorot di angka 90,24. Turunnya dolar AS ini terjadi usai Ketua Jerome Powell mengeluarkan pernyataan bernada dovish bahwa The Fed tidak akan menaikkan acuan dalam waktu dekat dan menolak pernyataan bahwa mungkin bakal mulai mengurangi pembelian obligasi dalam waktu dekat.

Adapun program pembelian aset The Fed untuk mendukung keuangan selama pandemi Covid-19 telah menekan dolar AS karena meningkatkan pasokan mata uang dan mengurangi nilainya. Meski demikian, dolar diperdagangkan lebih tinggi untuk sebagian besar sesi pada Kamis, sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

“Kita mendapat banyak sekali soundbite dovish seperti yang diperkirakan,” kata Erik Bregar, kepala strategi valas di Exchange Bank of Canada di Toronto, seperti dilansir Antara. “Pada akhirnya, pasar mengantisipasi bahwa kita akan melihat lebih banyak stimulus daripada yang diharapkan dalam 100 hari pertama Biden,” imbuh Edward Moya, analis pasar senior, di OANDA di New York.

Sedangkan rupiah diprediksi bakal melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini karena didukung oleh sentimen global maupun domestik. Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, sentimen eksternal yang menguntungkan rupiah adalah rencana terpilih AS Joe Biden yang akan merinci RUU stimulus, diperkirakan mencapai USD2 triliun.

“Sentimen tersebut juga bisa meningkatkan optimisme pemulihan global umumnya, khususnya AS, yang bisa mendorong investor melirik aset berisiko. Stimulus ini bisa melemahkan dolar, namun jika investor justru berpacu pada inflasi, di mana ketika inflasi naik, maka prospek tapering juga meningkat. Hal ini bisa menguatkan dolar AS,” jelas Alwi, seperti dikutip Kontan. Dari dalam negeri, Alwi menilai rupiah akan ditopang oleh rilis data neraca perdagangan, di mana neraca perdagangan bulan Desember 2020 diprediksi surplus USD2,3 miliar.

Loading...