Rupiah Rebound Berkat Langkah BI Lanjutkan Kebijakan Quantitative Easing

Rupiah - blog.talenta.coRupiah - blog.talenta.co

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (14/10), dengan penguatan sebesar 17,5 poin ke level Rp14.707,5 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (13/10), mata uang Garuda ditutup melemah 25 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.725 per USD setelah (BI) memutuskan untuk mempertahankan acuan tidak berubah pada kisaran 4 persen.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik 0,528 persen dan menempatkan USD pada jalur untuk persentase kenaikan harian terbesar dalam 3 pekan.

Di sisi lain, rupiah diperkirakan akan tertekan pada perdagangan hari ini karena faktor eksternal dan internal. Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana, aksi unjuk rasa yang juga terjadi dari awal pekan ini masih jadi katalis negatif untuk rupiah.

Lebih lanjut Fikri menambahkan, para investor tak memperkirakan adanya aksi demo tersebut. Oleh sebab itu, sentimen tersebut diprediksi masih akan menekan rupiah hari ini. Terlebih karena sentimen sekarang juga belum menguntungkan untuk posisi rupiah.

“Bank Sentral China (PBoC) baru saja memangkas Giro Wajib Minimum atawa GWM untuk transaksi forward di valas menjadi 0%. Dampak kebijakan tersebut berujung pada banjirnya likuiditas yuan China, yang pada akhirnya membuat yuan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS),” ucap Fikri, seperti dikutip dari Kontan.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede justru berpendapat hari ini rupiah berpeluang untuk rebound karena didorong keputusan BI yang masih akan melanjutkan kebijakan quantitative easing (QE) tanpa menurunkan suku bunga jangka pendek.

Meski begitu, Josua menilai rupiah masih harus waspada terhadap sentimen eksternal khususnya perkembangan uji coba (-19). Pasalnya, hal itu sempat membuat rupiah jeblok di perdagangan sebelumnya. “Dalam laporannya, salah satu pengembang vaksin menunda perkembangan vaksin setelah salah satu pasien jatuh sakit. Sentimen ini tidak terlalu berdampak signifikan pada pasar Asia pada umumnya,” katanya.

Loading...