Dolar AS Mulai Loyo, Rupiah Manfaatkan Momen untuk Berbalik Menguat

Rupiah - www.kabarin.coRupiah - www.kabarin.co

Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka rebound atau menguat sebesar 40 poin atau 0,31 persen ke posisi Rp14.090 per di awal pagi hari ini, Rabu (13/1). Sebelumnya, Garuda berakhir terdepresiasi 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.130 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,44 persen jadi 90,074 lantaran reli baru-baru ini yang dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi sepertinya mulai kehabisan tenaga.

Para pedagang di pasar valas (valuta asing) memperlihatkan minat yang kuat terhadap mata uang berisiko seperti dolar Australia dan Selandia Baru. Hal ini pula yang meneka mata uang safe haven seperti dolar AS. Dolar AS sudah menginjak level terendah lebih dari 2,5 tahun pada Januari 2021 usai tergelincir selama berbulan-bulan akibat penurunan suku bunga (The Fed) dan permintaan investor yang kuat terhadap aset-aset berisiko.

Menurut Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, tren pelemahan rupiah kemungkinan masih akan berlanjut pada perdagangan hari ini. Sutopo berpendapat, penguatan dolar AS masih akan jadi sentimen yang membatasi gerak rupiah dalam perdagangan hari ini.

“Kenaikan dolar AS tidak terlepas dari imbal hasil obligasi dolar AS yang masih dalam tren kenaikan. Di satu sisi, kekhawatiran penyebaran dan ketidakpastian politik di AS juga masih jadi sentimen yang menguntungkan dolar AS. Dus rupiah masih akan cenderung tertekan,” ujar Sutopo, seperti dilansir Kontan.

Senada, ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail juga memprediksi hari ini rupiah bakal kembali melemah. Menurutnya, kabar terkait defisit APBN AS hingga USD2,3 triliun telah membuat kebutuhan akan USD terus meningkat. Sedangkan The Fed juga tidak mungkin membiayai hal itu secara keseluruhan, sehingga ketersediaan dolar AS berkurang.

“Tren ini kemungkinan masih akan bertahan selama belum ada sentimen positif dari dalam negeri. Adapun, potensi katalis positif untuk rupiah masih harus menunggu rilis terkait neraca perdagangan yang masih pada akhir pekan nanti,” tandas Ahmad.

Loading...