Menguat Tipis, Gerak Rupiah Hari Ini Diprediksi Terpengaruh Faktor Teknikal

Rupiah - geotimes.co.idRupiah - geotimes.co.id

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (13/2), dengan penguatan sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp13.673 per AS. Kemarin, Rabu (12/2), Garuda berakhir terapresiasi tipis 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp13.674 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS berhasil mencapai level tertinggi lebih dari 2 tahun terhadap euro lantaran para pelaku memasukkan lebih banyak uang ke Amerika Serikat di tengah menguatnya optimisme jika virus corona bisa teratasi.

Pada Rabu (12/2) China melaporkan terendah virus corona baru dalam 2 pekan. Hal itu sekaligus memperkuat prediksi penasihat senior Beijing jika corona akan berhasil dituntaskan pada April 2020 mendatang. Akan tetapi, kekhawatiran penyebaran virus secara internasional tetap ada.

“Pasar cukup yakin bahwa China akan dapat mengendalikan virus, meskipun mungkin perlu waktu. Fakta bahwa itu sepertinya tidak mematikan di luar China adalah sesuatu yang menenangkan pasar,” ujar Steve Englander, kepala penelitian global valas G10 di Standard Chartered di New York, seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Selain itu, S&P 500 dan Dow Jones Industrials menginjak level tertinggi sepanjang masa pada Rabu (12/2). Pasar pun tumbuh lebih nyaman dengan risiko di tengah pandangan bahwa bank-bank sentral kemungkinan akan menyediakan peningkatan akomodasi apabila virus corona mengancam ekonomi global.

Lantaran masih belum ada sentimen baru yang signifikan, gerak rupiah dan dolar AS pun saat ini cenderung tarik-menarik. Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, hari ini juga masih belum ada sentimen baru yang dapat memengaruhi gerak rupiah. Alwi berpendapat bahwa sentimen virus corona sudah tak lagi terlalu berarti, sedangkan dari dalam negeri juga tak ada data ekonomi terbaru yang dirilis pekan ini.

“Mungkin yang bisa sedikit memberi tekanan terhadap rupiah datang dari testimoni Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengenai kondisi ekonomi AS. Tapi pasar sejauh ini sudah mengantisipasi, sehingga pengaruhnya tidak akan terlalu besar,” ujar Alwi, seperti dilansir Kontan.

Tak jauh berbeda, ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih memaparkan jika gerak rupiah hari ini kemungkinan dipengaruhi faktor teknikal. “Saya kira kalau melihat level saat ini, sudah cukup menarik dibeli. Sehingga akan ada potensi pelemahan karena aksi profit taking, meski demikian pelemahan tidak akan terlalu dalam,” bebernya.

Loading...