Rupiah Pagi Ini Kembali Melorot di Tengah Pelemahan Dolar AS

Dolar - politiktoday.comDolar - politiktoday.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 15 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp14.617,5 per AS di awal hari ini, Kamis (15/4). Kemarin, Rabu (14/4), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terapresiasi tipis 2,5 poin atau 0,02 persen ke level Rp14.602,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau anjlok. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS jatuh ke angka 91,57, level terendah sejak 18 Maret 2021, dan terakhir turun 0,11 persen di 91,68. Penurunan USD terjadi saat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di bawah level tertinggi belum lama ini, sehingga mengurangi daya tarik relatif dolar AS.

Dolar AS telah menguat tahun ini akibat imbal hasil obligasi pemerintah yang melonjak di tengah ekspektasi yang lebih cepat dan lebih tinggi. Tetapi, perdagangan itu sudah berhenti bulan ini, lantaran imbal hasil stabil di bawah level tertinggi 1 tahun yang dicapai bulan lalu.

“Seluruh perdagangan pro dolar didasarkan pada kisah imbal hasil dan mengingat fakta bahwa kisah imbal hasil telah mundur dari tertinggi, dolar telah melakukan hal yang hampir sama. Sampai obligasi mendapatkan keuntungan dari ketakutan inflasi lagi, saya pikir long position dolar masih diserang,” ucap Boris Schlossberg, direktur pelaksana valas di BK Asset Management di New York, seperti dilansir Antara.

Dari dalam negeri, rupiah berpeluang untuk melanjutkan penguatannya karena didukung oleh sentimen eksternal. “Secara teknikal maupun sentimen, rupiah berpotensi berlanjut menguat,” ujar Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, seperti dikutip Kontan.

Tak jauh berbeda, Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf memiliki kecenderungan menguat karena kemungkinan bakal dipengaruhi pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell. Powell diprediksi akan kembali mengulang pernyataannya bahwa inflasi hanya bersifat sementara dan masih mendukung kebijakan akomodatif hingga ekonomi AS tumbuh stabil dan lapangan kerja mencapai tingkat yang maksimal.

“Sikap dovish dari Powell tersebut kemungkinan akan melemahkan dolar AS lebih lanjut dan membuat yield obligasi AS akan kembali turun. Hal ini tentunya bisa menjadi katalis positif buat rupiah, sehingga rupiah bisa menguat kembali,” tandas Alwi.

Loading...