Optimisme Pasar Bikin Aset Berisiko Terangkat, Rupiah Langsung Melaju 50 Poin

Rupiah - www.beritasatu.comRupiah - www.beritasatu.com

Jakarta rupiah dibuka menguat 50 poin ke level Rp14.355 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (12/3). Kemudian, rupiah lanjut merangkak naik 65 poin atau 0,45 persen ke Rp14.340 per USD. Sebelum libur Isra Miraj, Rabu (10/3), Garuda berakhir stagnan di posisi Rp14.405 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dolar AS terpantau turun 0,41 persen menjadi 91,435, penurunan hari ketiga berturut-turut usai menginjak level tertinggi 3 bulan di 92,506 pada hari Selasa.

Dolar AS merosot ketika Bank Sentral Eropa (ECB) menyatakan bakal memertahankan pinjaman dan lelang 30-tahun memenuhi permintaan yang cukup untuk membantu menstabilkan imbal hasil, sehingga memberikan dorongan pada aset-aset berisiko. ECB mengaku siap mempercepat pencetakan uang untuk menahan imbal hasil zona euro turun. Hal ini menandakan yang skeptis bahwa ECB bertekat untuk meletakkan dasar bagi pemulihan ekonomi yang solid.

Di Amerika Serikat tanggapan terhadap lelang obligasi pemerintah yang mengikuti lelang 3 tahun dan 10 tahun di awal pekan telah membantu meredam kekhawatiran terkait kemampuan investor dalam menyerap peningkatan utang yang dibutuhkan untuk membiayai respons terhadap pandemi.

“Kami memiliki serangkaian kabar baik minggu ini sejauh menyangkut lelang obligasi pemerintah dan tentu saja ECB memberikan sedikit lebih banyak dari yang kami harapkan sejauh menjadi sedikit lebih dovish dan mencoba untuk meningkatkan pembeliannya (obligasi). Ini adalah sinyal bahwa kami mungkin melihat penarik yang cukup signifikan di balik -harga aset berisiko,” ujar Mazen Issa, ahli strategi valas senior di TD Securities, seperti dilansir Antara.

Pada perdagangan akhir pekan ini, gerak rupiah diprediksi masih akan dipengaruhi oleh yield US Treasury dan data inflasi AS. Ekonom BCA David Sumual menilai bahwa sentimen yang memengaruhi rupiah masih terkait kenaikan yield obligasi AS tenor 10 tahun. “Jumat nanti (12/3), sentimen yang membayangi rupiah masih akan sama,” kata David, seperti dikutip dari Kontan.

Sementara itu, analis Global Kapital Investama, Alwi Assegaf berpendapat jika ada sentimen risk on di pasar, maka rupiah kemungkinan dapat kembali menguat. Peluang penguatan rupiah juga bakal ditunjang oleh faktor teknikal.

Loading...