Inflasi AS Tinggi, Rupiah Masih Belum Beranjak dari Zona Merah

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (14/4), dengan pelemahan sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp14.615 per AS. Sebelumnya, Selasa (13/4), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.605 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS jatuh ke level terendah 3 pekan usai data menunjukkan meningkat pada Maret 2021, meski kenaikan itu diperkirakan tak akan mengubah komitmen Federal Reserve dalam menjaga pada level terendah untuk beberapa tahun yang akan datang.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan, indeks naik 0,6 persen bulan lalu, sekaligus mencatat kenaikan terbesar sejak Agustus 2012, usai naik 0,4 persen pada Februari. Tidak termasuk komponen makanan dan energi yang volatil, IHK disebut naik 0,3 persen. Sedangkan IHK inti naik 0,1 persen pada Februari 2021. Dolar AS sendiri sempat naik di tengah rilis data tersebut, sebelum berbalik arah dan melemah ke level terendah 3 minggu.

“Itu tetap tidak mengubah prospek Fed untuk tetap berada di jalur suku bunga rendah di masa mendatang. Kami cenderung melihat inflasi bergerak lebih tinggi, sebelum akhirnya bergerak lebih rendah. Sejauh ini berpegang teguh pada skrip The Fed,” ujar Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Dari dalam negeri, rupiah rupanya sempat mencapai level terendah tahun ini di angka Rp14.605/USD. Angka tersebut digadang-gadang sebagai posisi terlemah rupiah tahun 2021 dan merupakan level paling lemah sejak awal November 2020. Pada perdagangan hari ini, gerak rupiah diprediksi bakal dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Research and Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menyebutkan, faktor eksternal selain data inflasi AS, juga akan dilihat dari seperti apa harapan pasar terhadap pemulihan ekonomi AS. “Dilihat juga dari data ritel di hari Kamis kemungkinan masih menunjukkan angka atraktif, bisa dikatakan semua ini akan membuat pergerakan rupiah akan melemah di esok hari (hari ini) maupun di sesi perdagangan hari Kamis nanti,” tandas Nanang, seperti dikutip Kontan.

Loading...