Terimbas Profit Taking, Kurs Rupiah Terpeleset di Awal Perdagangan

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 2,5 poin ke level Rp14.055 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (11/11). Kemudian, lanjut melemah 7,5 poin atau 0,05 persen menjadi Rp14.065/USD. Sebelumnya, Selasa (10/11), Garuda berakhir terapresiasi 7,5 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.057,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau stabil pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB. Kurs dolar AS stabil lantaran pasar mata uang sedang mencerna hasil uji coba yang diklaim dapat melawan virus corona (Covid-19).

obat AS, Pfizer dan mitranya BioNTech mengumumkan bahwa uji klinis yang dilakukan menunjukkan lebih dari 90% vaksin efektif dalam mencegah Covid-19. Kabar ini juga yang menjadi sentimen pendorong mencari aset berisiko. Namun, USD cenderung bergerak mendatar karena pelaku pasar menolak untuk mendorongnya lebih jauh lantaran vaksin masih belum pasti kapan diluncurkan.

“Hari ini sedikit tenang dari apa yang telah dilihat dalam beberapa hari terakhir ini. Pasar juga membutuhkan kejelasan lebih dalam hal distribusi, kuantitas, timeline, dan kepada siapa vaksin tersebut diberikan,” ujar Trader Senior Silicon Valley Bank Minh Trang, seperti dilansir dari Reuters melalui Okezone.

Di sisi lain, menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede rupiah hari ini akan cenderung menguat terbatas. Pasalnya, yield surat utang (SUN) 10 tahun tercatat naik 8 bps yang merespons kenaikan yield US Treasury.

“Selain itu, dengan mempertimbangkan tren penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, maka aksi profit taking juga turut mempengaruhi perkembangan pasar keuangan domestik. Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan vaksin dalam waktu dekat ini,” kata Josua, seperti dikutip dari Kontan.

Analis HFX International Berjangka Ady Phangestu menambahkan, penguatan rupiah sebetulnya sudah tampak dari pekan lalu saat indikator teknikal membentuk pola rising wedge. Tetapi, dengan hasil survei terbaru BI, menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia memburuk jadi 79,0 pada bulan Oktober dari sebelumnya 83,4. Hal itu yang dinilai menahan penguatan rupiah.

Loading...