ECB Luncurkan Stimulus Baru, Kurs Rupiah Dibuka Naik Tipis 5 Poin

Rupiah - infonawacita.comRupiah - infonawacita.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.100 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (11/12). Kemarin, Kamis (10/12), mata uang Garuda berakhir terapresiasi tipis 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.105 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau . Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,30 persen jadi 90,8197 di tengah penguatan euro. Euro sendiri menguat usai Bank Sentral Eropa (ECB) meluncurkan paket stimulus baru tetapi mengecewakan investor yang mencari dorongan stimulus lebih besar. Sedangkan pound sterling turun lantaran prospek Brexit tanpa kesepakatan tampak lebih mungkin terjadi.

ECB memperluas skema pembelian surat utang dan setuju untuk menyediakan bank-bank dengan lebih banyak likuiditas ultra-murah selama mereka terus memberi uang tunai pada perusahaan. “Ini adalah bank sentral besar kedua yang dengan santai mencatat nilai tukar baru-baru ini, menggarisbawahi penurunan dolar AS. Kami tidak berpikir ada terlalu banyak yang dapat dilakukan ECB untuk membalikkan tren ,” ujar Mark McCormick, kepala strategi valas global di TD Securities, seperti dilansir Antara.

Rupiah sendiri kini pergerakannya akan dipengaruhi oleh kelanjutan stimulus fiskal Amerika Serikat. Apabila akhir pekan ini belum ada kepastian terkait stimulus AS, maka rupiah kemungkinan bakal melemah. Menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, pembahasan stimulus AS sempat buntu ketika Presiden AS Donald Trump berencana mengurangi klaim tunjangan pengangguran. Akan tetapi, saat ini negosiasi stimulus AS masih terus berlangsung.

“Kurs rupiah berpotensi melemah jika hingga Jumat (11/12) ternyata tidak ada kepastian mengenai perkembangan stimulus AS. Tidak ada kepastian stimulus AS berpotensi membawa rupiah melemah karena AS akan menjadi pilihan pasar kembali,” ujar Faisyal, seperti dikutip Kontan.

Dari dalam negeri, rupiah masih dihantui oleh tekanan kekhawatiran pasar terkait kenaikan jumlah kasus positif (-19) yang tinggi setelah pelaksanaan pilkada (pemilihan kepala daerah).

Loading...