Imbal Hasil US Treasury Turun, Rupiah Rebound 15 Poin pada Rabu Pagi

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

Jakarta rupiah mengawali pagi hari ini, Rabu (10/3), dengan penguatan sebesar 15 poin atau 0,10 persen ke level Rp14.390 per AS. Sebelumnya, Selasa (9/3), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 45 poin atau 0,31 persen ke posisi Rp14.405 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,46 persen jadi 91,95 usai menginjak level tertinggi tiga setengah bulan di 92,506. Kurs dolar AS tertekan oleh kemunduran imbal hasil (yields) obligasi pemerintah Amerika Serikat menjelang data inflasi penting dan lelang obligasi pekan ini.

Adapun imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun telah melemah menjadi 1,544 persen usai mencapai 1,613 persen pada Senin (8/3), mendekati level tertinggi 13 bulan. Imbal hasil telah menguat di tengah ekspektasi bahwa rebound akan lebih cepat dibandingkan perkiraan serta memicu lonjakan inflasi. Presiden AS Joe Biden pun diprediksi bakal menandatangani paket bantuan (Covid-19) senilai 1,9 triliun dolar AS minggu ini.

“Kami melihat imbal hasil turun setelah kami mendapat beberapa pernyataan menenangkan dari Menteri Keuangan Janet Yellen yang meremehkan prospek inflasi yang tak terkendali,” ujar Joe Manimbo, analis senior di Western Union Business Solutions, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, indeks konsumen AS dan data indeks produsen yang akan dirilis pada Rabu dan Jumat juga akan diawasi oleh para investor secara ketat. “Stabilitas kemungkinan akan tetap menjadi tema hari ini menjelang lelang surat utang AS dan rilis inflasi AS besok, yang merupakan risiko jangka pendek untuk pasar valas,” papar ahli strategi ING.

Dari dalam negeri, rupiah diketahui telah melemah secara beberapa hari berturut-turut dan diprediksi akan rebound pada hari ini. Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana, tekanan sentimen eksternal harusnya bisa mereda hari ini berkat imbal hasil US Treasury yang turun.

“Yield US Treasury akhirnya turun dari 1,5% menjadi 1,4%. Ditambah lagi, stimulus AS senilai US$1,9 triliun sudah diloloskan oleh Senat sehingga berpotensi memicu penurunan lebih lanjut yield US Treasury seiring dengan likuiditas yang berlimpah,” terang Fikri, seperti dikutip Kontan.

Loading...