Dibuka Stagnan, Kurs Rupiah Pagi Ini Berbalik Menguat Tipis 5 Poin

Rupiah - publiksatu.comRupiah - publiksatu.com

Jakarta – Kurs dibuka stagnan di angka Rp14.255/USD di awal pagi hari ini, Kamis (10/6). Namun, beberapa saat kemudian berbalik menguat sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.250 per AS. Kemarin, Rabu (9/6), Garuda berakhir terdepresiasi tipis 2,5 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp14.255 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS merangkak naik 0,03 persen menjadi 90,14, ketika tengah fokus pada laporan indeks konsumen Amerika Serikat dan pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) mendatang untuk membantu mengukur laju pemulihan saat ini.

Laporan AS dan pertemuan ECB akan berlangsung pada Kamis waktu setempat. Oleh sebab itu, para kini sedang wait and see, mengakibatkan mata uang utama sebagian besar terjebak pada kisaran perdagangan yang sempit belakangan ini.

Data harga konsumen Departemen Tenaga Kerja AS sudah banyak diantisipasi usai laporan bulan lalu menunjukkan harga konsumen mengalami peningkatan paling tinggi dalam hampir 12 tahun pada April 2021, sehingga memicu pandangan bahwa harga-harga yang lebih tinggi bisa bertahan lebih lama dibanding perkiraan pasar. Menurut ekonom yang disurvei Reuters, IHK diprediksi naik 0,4 persen pada Mei.

Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, gerak rupiah cenderung sempit karena pasar cenderung wait and see menanti data inflasi AS pada Kamis (10/6). Investor juga menanti FOMC meeting pada pertengahan bulan ini untuk mencermati arah kebijakan The Fed.

Di sisi lain, sentimen atau data dari dalam negeri masih belum ada yang berpengaruh signifikan terhadap gerak rupiah. “Penurunan cadangan devisa Mei tidak signifikan dan masih dalam jumlah yang aman dan mampu menjaga kestabilan ekonomi,” kata Reny, seperti dilansir Kontan. “Ada wacana The Fed ingin jual obligasi korporasi secara bertahap ini menimbulkan spekulasi bahwa ekonomi AS akan pulih dengan cepat dan inflasi tumbuh lebih tinggi,” imbuhnya.

Loading...