Bergerak Labil, Rupiah Menguat Tipis Kemudian Balik ke Zona Merah

Rupiah - fajar.co.idRupiah - fajar.co.id

Jakarta – Kurs rupiah mengawali pada pagi hari ini, Jumat (1/10), dengan penguatan sebesar 2,5 poin ke posisi Rp14.310 per dolar AS. Sayangnya, rupiah kemudian berbalik melemah 12,5 poin atau 0,09 persen ke Rp14.325/USD. Kemarin, Kamis (30/9) sore, nilai tukar mata uang Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,14 persen ke angka Rp14.312,5 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the Greenback terhadap enam mata uang utama dilaporkan tergelincir dari level tertinggi satu tahun. Pada akhir Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,2 persen menjadi 94,199, karena tertekan oleh kenaikan klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat. Selain itu, para investor juga mengonsolidasikan keuntungan mereka usai kenaikan tajam selama beberapa sesi perdagangan terakhir.

Dolar AS secara keseluruhan didukung oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah ekspektasi Federal Reserve yang akan mengurangi stimulus moneternya mulai bulan November 2021 depan, bahkan saat pertumbuhan global sedang melambat. Sayangnya, data ekonomi terbaru justru menjatuhkan dolar AS.

Adapun klaim pengangguran awal AS naik untuk minggu ketiga berturut-turut jadi 362.000 pada periode yang berakhir 25 September 2021. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memprediksi 335.000 permohonan tunjangan pengangguran pada pekan terakhir. Laporan lain juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS mengalami percepatan di kuartal kedua, pada laju 6,7 persen, karena adanya uang bantuan dari pemerintah yang berhasil mendorong belanja konsumen.

“Bahkan jika dolar AS kembali sedikit lebih jauh dalam waktu dekat, kami perkirakan akan melanjutkan reli baru-baru ini pada waktunya. Meskipun imbal hasil jangka panjang telah di sebagian besar ekonomi utama, imbal hasil obligasi AS telah meningkat lebih kuat dari kebanyakan dan, yang penting, sebagian besar didorong oleh imbal hasil riil yang lebih tinggi, yang mencerminkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat,” kata Joseph Marlow, asisten ekonom di Capital Economics.

Sementara itu, Presiden Komisioner HFX Berjangka Sutopo Widodo berpendapat bahwa penguatan obligasi AS telah menekan rupiah. “Namun diakui masih ada ketidakpastian seputar rantai pasokan yang menyebabkan inflasi memanas kembali, meskipun diyakini akan bersifat sementara,” ujarnya pada Kontan.

Dari dalam negeri, ia mengatakan bahwa dirilisnya HIS Markit Manufacturing PMI yang diperkirakan akan menguat, serta program vaksinasi yang pesat bakal menopang rupiah. “Selain itu juga akan dilaporkan tingkat inflasi, inflasi diperkirakan pada angka 1,7% sedikit di atas konsensus 1,69%. Jika semua laporan positif, rupiah bisa menguat di tengah derasnya isu shutdown pemerintah AS pada 1 Oktober,” tutupnya.

Loading...