Manufaktur AS Lesu, Rupiah Manfaatkan Peluang untuk Menguat Tipis

Rupiah - keuangan.coRupiah - keuangan.co

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 3,5 poin atau 0,03 persen ke level Rp14.212 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (2/10). Sebelumnya, Selasa (1/10), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 21 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.216 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau datar di posisi 99,037 lantaran terkena dampak dari lesunya dalam 10 tahun belakangan, demikian seperti dilansir dari Yahoo Finance melalui Okezone.

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa aktivitas di sektor manufaktur Amerika Serikat mengalami kontraksi pada bulan September 2019. Adapun Indeks Manajer Pembelian Manufaktur AS turun 1,3 poin atau 47,8 persen dari persentase bulan Agustus lalu sebesar 49,1 persen.

Para pelaku pun dikabarkan lebih banyak yang mengalihkan hartanya pada aset yang lebih aman seperti yen Jepang yang kini tengah menguat terhadap USD. Sedangkan pound sterling kini terus mengalami penurunan saat Brexit sudah semakin dekat. Laporan yang bocor menyebutkan jika pemerintah Inggris berencana untuk melakukan pemeriksaan pabean antara perbatasan Irlandia Utara dan Republik Irlandia, yang ditolak oleh dan Irlandia.

Menurut Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim, pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin masih dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dari sisi eksternal salah satunya dipengaruhi oleh kondisi Hong Kong yang masih bergejolak.

Di samping itu, konflik Brexit yang mulai memanas lagi juga ikut mendesak rupiah di pasar spot. Brexit makin genting seiring dengan rencana Perdana Menteri Boris Johnson yang ingin menghindari perbatasan keras di Pulau Irlandia ke Uni Eropa. Rencana tersebut dianggap melibatkan serangkaian pusat bea cukai yang berada di sekitar perbatasan.

“Secara efektif menciptakan perbatasan yang keras dalam semua hal kecuali nama, dan dengan demikian secara efektif melanggar Perjanjian Jumat Agung yang telah dijanjikan oleh AS dan UE untuk dihormati,” beber Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Di sisi lain, dari dalam negeri aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa juga dinilai masih melemahkan rupiah. Kondisi keamanan yang belum stabil sangat memungkinkan keadaan untuk kembali memanas kapan saja. Oleh sebab itu, para pun cenderung menahan diri. “Kalau kondisi semakin dirasa tidak aman, maka ada risiko arus modal asing berbalik keluar sehingga rupiah bakal tertekan lagi,” tandasnya.

Loading...