Sempat Tertekan Akibat Aksi Demo, Rupiah Dibuka Naik Tipis Pagi Ini

Rupiah - didikpurwanto.comRupiah - didikpurwanto.com

Jakarta dibuka menguat tipis sebesar 1,5 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp14.150 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (26/9). Kemarin, Rabu (25/9), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 38 poin atau 0,27 persen ke level Rp14.152 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,70 persen jadi 99,0290 lantaran stasusnya sebagai salah satu mata uang safe haven makin kuat usai peluncuran penyelidikan pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, demikian seperti dilansir Xinhua melalui Antara.

Pada Selasa (23/9), Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengumumkan inisiasi penyelidikan pemakzulan resmi terhadap Presiden Donald Trump atau pembicaraan telepon kontroversial yang terakhir bersama Presiden Ukraina. Lebih lanjut Pelosi mengungkapkan bahwa DPR yang didominasi oleh Demokrat akan mencari tahu apakah Trump telah meminta bantuan pada Ukraina guna menyelidiki Joe Biden. Biden sendiri adalah mantan wakil Barack Obama yang bakal jadi salah satu kandidat penantang utama Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2020 depan.

Adanya ketidakpastian kondisi di Washington serta kekhawatiran terkait isu perlambatan telah menjadi sentimen positif yang mengatrol posisi dolar AS lantaran mata uang satu ini kerap dipandang aset safe haven. Terlebih karena para pakar mencatat USD berperan sebagai mata uang cadangan dunia.

Rupiah sendiri melemah hingga perdagangan kemarin akibat faktor eksternal dan internal. Dari dalam negeri, mahasiswa telah melakukan aksi unjuk rasa selama 2 hari berturut-turut untuk menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK. Hal itu dinilai menambah kekhawatiran pasar terhadap kondisi keuangan dalam negeri.

Selain itu, karena kondisi perekonomian kini juga terimpit isu global seperti konflik dagang antara AS dengan China yang masih belum berakhir dan juga isu terkait pemakzulan Presiden AS Donald Trump. “Gabungan antara isu global dan concern di domestik serta demonstrasi dua hari ini masih terus berlangsung dan menimbulkan jittery (kegelisahan) di pasar finansial kita,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, seperti dilansir Kontan.

Meski begitu, Destry yakin jika pasar Indonesia yang tengah berkembang masih menarik bagi . Menurut Destry, imbal hasil atau return yang ditawarkan Indonesia menarik, didukung dengan kondisi fundamental yang masih bagus. “Kalau dilihat pertumbuhan ekonomi kita berada di 5% cukup strong dan ini akan sebabkan inflow cukup besar,” tandasnya.

Loading...