Wait & See Suku Bunga The Fed, Rupiah Manfaatkan Momentum untuk Menguat

Rupiah - www.rupiahdesk.comRupiah - www.rupiahdesk.com

Jakarta – Kurs mengawali pagi hari ini, Rabu (31/7), dengan penguatan sebesar 7,5 poin atau 0,05 persen ke level Rp 14.020 per AS. Sebelumnya, Selasa (30/7), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 8 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 14.028 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit menguat pada Selasa atau Rabu pagi WIB. Indeks dolar AS dilaporkan naik tipis sebesar 0,01 persen menjadi 98,0562 pada pukul 15.00 waktu setempat (19.00 GMT) lantaran para pelaku pasar tengah menanti hasil keputusan Federal Reserve terkait arah suku bunga terbaru Amerika Serikat.

Sebagai , The Fed memulai pertemuan kebijakan moneter dua harinya pada Selasa (30/7) dan akan mengumumkan keputusannya pada Rabu sore waktu setempat. Para memproyeksikan bahwa AS akan memotong suku bunga acuannya pada pekan ini, untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade sebesar 25 basis poin.

Di sisi lain, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa pendapatan pribadi warga AS naik 0,4 persen pada Juni 2019, sedangkan angka inflasi tetap di bawah target yang ditetapkan The Fed. Kemudian pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ukuran pengeluaran rumah tangga, meningkat 41 miliar dolar AS pada Juni, berdasarkan laporan bulanan dari biro analisis departemen perdagangan. Secara tahun ke tahun, indeks inti PCE, ukuran inflasi The Fed yang mengecualikan makanan dan energi, naik 1,6 persen pada Juni, lebih rendah dari target tingkat inflasi The Fed sebesar 2,0 persen.

Rupiah sendiri kemarin sempat melemah karena pasar menunggu keputusan bunga The Fed. Menurut Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim, pasar mulai berhati-hati dan wait and see terhadap keputusan The Fed. “Pasar berharap The Fed dapat memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), menjadi penurunan suku bunga pertama bagi bank sentral AS tersebut dalam satu dekade terakhir,” katanya, seperti dilansir Kontan.

Di samping itu, gerak rupiah pun dipengaruhi sentimen pertemuan negosiasi perdagangan antara AS dan China. Menurut Ibrahim, pertemuan itu masih memberi harapan terkait adanya kesepakatan antara kedua itu, meski banyak pihak yang cenderung pesimis.

Rupiah pun masih dapat tertopang berkat sentimen positif dalam negeri, terutama berkaitan dengan penanaman modal asing (PMA) yang dirilis cukup bagus. “Prospek PMA tumbuh meyakinkan, bisa dikatakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin stabil. Pada akhirnya, secara fundamental rupiah akan kembali jadi incaran bagi pelaku pasar,” bebernya.

Loading...