Kurs Dolar AS Lesu, Rupiah Makin Perkasa & Menguat di Akhir Pekan

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

Jakarta – Pada akhir pekan ini, Jumat (23/11), ditutup menguat sebesar 36 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp 14.544 per dolar AS setelah tadi pagi dibuka naik 39 poin atau 0,27 persen ke level Rp 14.541 per dolar AS. Sepanjang hari ini, diperdagangkan pada rentang angka Rp 14.512 hingga Rp 14.557 per USD.

Siang tadi, (BI) mematok kurs tengah pada level Rp 14.552 per dolar AS, naik 40 poin atau 0,27 persen dari level Rp 14.592 per dolar AS. Sedangkan kurs jual ditetapkan pada posisi Rp 14.625 per dolar AS dan kursi beli di angka Rp 14.579 per dolar AS.

Rupiah terpantau menguat ketika mata uang lain di bergerak variatif siang tadi, dengan penguatan yang dipimpin oleh rupee India yang melonjak cukup tajam sebesar 1,08 persen. Pelemahan dipimpin oleh won Korea Selatan dengan depresiasi sebesar 0,12 persen.

Pukul 11.06 WIB indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah 0,281 poin atau 0,29 persen menjadi 96,431 setelah dibuka melemah 0,21 persen atau 0,205 poin di posisi 96,507. “Saat Amerika Serikat merayakan libur Thanksgiving, ada tanda-tanda menyurutnya momentum dolar,” kata AmBank, seperti dilansir melalui Bisnis.

Di sisi lain, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari 2019 dilaporkan menurun 1,10 persen atau 0,60 poin menjadi USD 54,03 per barel pada pukul 18.53 WIB usai rebound lebih dari 2 persen ke USD 54,63 pada akhir perdagangan Rabu (21/11) lalu. minyak mentah AS turun ketika ekspansi persediaan minyak mentah di AS menambah sentimen bearish yang berasal dari seruan AS Donald Trump supaya harga minyak lebih rendah.

Federal Reserve pun kabarnya tengah mempertimbangkan jeda pengetatan kebijakan moneter secara bertahap dan dapat mengakhiri siklus kenaikan suku bunga pada musim semi. The Fed akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga acuannya pada tahun depan, pasalnya prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global, berkurangnya manfaat stimulus fiskal di AS, dan volatilitas pasar menjadi tantangan tersendiri bagi para pembuat kebijakan.

“The Fed telah menjadi sadar akan kemungkinan menghentikan kenaikan suku bunganya, dengan mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global bahkan ketika ekonomi AS terus berlanjut baik,” ungkap Hideyuki Ishiguro, pakar senior di Daiwa Securities Co.

Loading...