Kurs Asia Tertekan, Rupiah Berbalik Melemah di Akhir Selasa

Rupiah - finrollnews.comRupiah - finrollnews.com

JAKARTA – gagal mempertahankan posisi di teritori hijau pada Selasa (8/1) sore, ketika kebangkitan indeks AS membuat mayoritas Asia bergerak lebih rendah. Menurut paparan Index pada pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda berbalik melemah tajam 65 poin atau 0,46% menuju level Rp14.148 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.031 per dolar AS, menguat 74 poin atau 0,52% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.105 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia perlahan berbalik melemah versus , dengan penurunan terdalam sebesar 0,54% masing-masing dialami rupee India dan won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS mencoba bangkit pada hari Selasa, di tengah keyakinan investor bahwa tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini dan risiko perlambatan pertumbuhan yang lebih tajam. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,212 poin atau 0,22% menuju level 95,870 pada pukul 12.44 WIB, setelah sebelumnya berakhir melemah 0,513 poin atau 0,53%.

Seperti dilansir Reuters, greenback sedikit menguat terhadap yen Jepang, setelah jatuh 0,2% di awal sesi, karena para pedagang yakin bahwa siklus pengetatan moneter di ekonomi terbesar dunia telah dihentikan untuk tahun ini. Pada Jumat (4/1) kemarin, Gubernur , Jerome Powell, mengatakan bahwa bank sentral akan lebih fleksibel dalam jalur kenaikan suku bunga. Sementara, Gubernur Atlanta, Raphael Bostic, menambahkan, mungkin hanya menaikkan suku bunga sekali pada 2019.

“The Fed sedang mendengarkan pasar dan telah mengakui tanda-tanda pasar yang sedang menurun,” ujar ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong. “Sejauh ini, laju inflasi telah berperilaku ‘baik’ sehingga Federal Reserve memiliki ruang untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga mereka.”

Di sisi lain, Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross, memprediksi bahwa pemerintah AS dan China dapat mencapai kesepakatan perdagangan, ketika sejumlah pejabat dari dua negara melanjutkan perundingan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing memiliki ‘itikad baik’ untuk bekerja sama dengan AS guna menyelesaikan friksi perdagangan pada perundingan 7-8 Januari.

Loading...