Kurs Asia Mixed, Rupiah Berbalik Menguat di Akhir Dagang

Uang Baru Rupiah - www.tribunnews.comUang Baru Rupiah - www.tribunnews.com

Di luar prediksi, ternyata mampu membalikkan posisi pada akhir Selasa (20/3) ini, ketika mata uang Asia bergerak variatif terhadap AS. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI mengakhiri hari ini dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,12% menuju level Rp13.748 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah harus ditutup melemah 14 poin atau 0,10% di posisi Rp13.765 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (19/3) kemarin. Mata uang Garuda lanjut turun 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.771 per dolar AS ketika membuka pasar pagi tadi. Namun, setelah itu, spot berbalik menguat dan bertahan hingga tutup dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp13.761 per dolar AS, menguat tipis 4 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.765 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,16% dialami won Korea Selatan, sedangkan pelemahan terdalam sebesar 0,14% menghampiri peso Filipina.

Dari pasar , seperti dilaporkan Reuters, euro masih mempertahankan langkah positif pada hari Selasa, ketika menghidupkan kembali spekulasi bahwa European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Mata uang tunggal Benua Biru tercatat berada pada posisi 1,2341 dolar AS, setelah sebelumnya naik 0,4% pada hari Senin.

Selain euro, mata uang pound sterling juga bergerak lebih tinggi terhadap greenback, setelah Inggris dan Uni Eropa menyetujui periode transisi pasca-Brexit dan solusi untuk menghindari masalah perbatasan dengan Irlandia Utara. Mata uang Inggris menguat tipis 0,1% menuju level 1,4035 dolar AS, setelah sebelumnya menyentuh level terkuat sejak 16 Februari di 1,4088 pada transaksi kemarin.

“Ini membuat orang lebih nyaman dengan kekuatan euro, karena orang-orang akan memantau setiap perubahan dalam setiap nada kebijakan ECB,” ujar analis investasi senior di Manulife Asset Management di Boston, Chuck Tomes. “Itu juga positif untuk pound sterling Inggris dan memiliki potensi untuk melakukan penguatan lebih lanjut.”

Saat ini, pelaku pasar sedang menantikan apakah Federal Reserve, dalam pertemuan kebijakan tengah pekan, akan melakukan kenaikan suku bunga yang lebih cepat dalam beberapa bulan mendatang. Investor sendiri memprediksi bahwa FOMC meeting yang berakhir Kamis (22/3) pagi WIB akan menaikkan suku bunga acuan menjadi antara 1,5% hingga 1,75%.

Loading...