Kurs Asia Kompak Turun, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – gagal bergerak ke teritori hijau pada perdagangan Rabu (16/1) sore, seiring kurs , meski indeks dolar AS juga terpantau melemah setelah anggota parlemen Inggris menolak kesepakatan Perdana Menteri Theresa May untuk keluar dari Uni Eropa. Menurut paparan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda melemah 38 poin atau 0,28% ke level Rp14.128 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.154 per dolar AS, terdepresiasi 70 poin atau 0,49% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.084 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,25% menghampiri peso Filipina.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya terpantau bergerak lebih rendah pada hari Rabu, karena pound sterling berhasil rebound setelah anggota parlemen Inggris menolak kesepakatan Perdana Menteri Theresa May untuk meninggalkan Uni Eropa. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,0940 poin atau 0,10% menuju level 95,945 pada pukul 13.14 WIB.

Seperti dilansir Reuters, sementara hasil voting dapat memicu pergolakan yang dapat menyebabkan keluar dari Uni Eropa, mata uang Inggris menguat karena harapan bahwa skala kekalahan mungkin memaksa anggota parlemen untuk mengejar opsi lain. Parlemen memberikan suara 432 berbanding 202, kekalahan terburuk bagi dalam sejarah Inggris baru-baru ini.

Pound sterling, yang turun sebanyak 1,2% sebelum hasil pemungutan suara, secara singkat memperpanjang penurunan menjadi 1,5% sebelum akhirnya rebound tajam untuk turun hanya 0,1% di posisi 1,286 dolar AS. Indeks dolar AS juga turun sejalan dengan pound, setelah naik pada hari sebelumnya di tengah data yang menunjukkan Jerman melambat pada 2018.

“Meski margin kekalahan yang dialami May mengejutkan, kekalahan itu sendiri adalah sesuatu yang telah diperhitungkan oleh harga pasar untuk waktu yang lama,” ujar pakar strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Pasar saat ini mempertimbangkan tenggat waktu pada Maret yang diperpanjang. Dalam jangka panjang, bisa ada dua skenario, yakni tanpa kesepakatan atau tidak sama sekali.”

Loading...