Kurs Asia Kompak Turun, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

JAKARTA – Rupiah agaknya kompak melemah bersama dengan mayoritas kurs Asia lainnya, meski indeks AS juga bergerak lebih rendah pada hari Rabu (2/1), di tengah kekhawatiran ekonomi global. Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda terpantau melemah 68 poin atau 0,47% menuju level Rp14.458 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.465 per dolar AS, menguat 16 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.481 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,71% menghampiri dolar Taiwan, disusul won Korea Selatan yang turun 0,61%.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada hari Rabu, di tengah kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global, penutupan pemerintah AS, serta potensi lambatnya kenaikan . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,2410 poin atau 0,25% menuju level 95,8440 pada pukul 13.11 WIB, setelah sebelumnya berakhir di posisi 96,0850.

Seperti dilansir Reuters, mata uang safe haven, seperti yen, menguat pada hari ini, ketika investor mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi global serta penutupan pemerintah AS. Yen terpantau menguat 0,3% terhadap greenback, menjadi 109,39 di pasar Asia, walaupun volume perdagangan masih relatif minim karena pasar baru dibuka setelah libur Tahun Baru.

“Masih sulit untuk menjadi sangat positif mengingat semua ketidakpastian yang terjadi,” tutur ahli mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong. “Mudah-mudahan, akan ada kemajuan pada pembicaraan perdagangan, tetapi pasar tetap berhati-hati dan itu menguntungkan aset yang aman seperti yen Jepang.”

Kekhawatiran perlambatan global diperparah pada hari Rabu oleh survei yang menunjukkan aktivitas pabrik China mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam 19 bulan pada bulan Desember, imbas pesanan dan ekspor yang terus melemah. Dengan kondisi bisnis yang diperkirakan akan menjadi lebih buruk, China diprediksi akan meluncurkan lebih banyak langkah dukungan dalam beberapa bulan mendatang di atas serangkaian inisiatif pada tahun 2018.

Loading...