Kurs Asia Kompak Naik, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - poskotanews.comRupiah - poskotanews.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada Rabu (23/1) sore, ketika mayoritas bergerak menguat versus greenback, didukung optimisme perang dagang AS-China akan segera berakhir. Menurut pantauan Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda menguat 32 poin atau 0,23% ke level Rp14.188 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.188 per , menguat 33 poin atau 0,23% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.221 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa melawan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,43% menghampiri peso Filipina.

“Penguatan rupiah terjadi setelah adanya optimisme perang dagang akan segera berakhir,” tutur ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dikutip Kontan. “Selain itu, pound sterling pun turut bergerak ke zona hijau setelah tawaran baru mengenai Brexit dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May, disambut dengan positif.”

Dari , indeks dolar AS masih bertahan di zona hijau pada hari Rabu, setelah kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi dan ketegangan perdagangan AS-China mengurangi selera investor untuk aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau diperdagangkan di level 96,304 pada pukul 12.58 WIB, menguat sangat tipis 0,001 poin.

Seperti diberitakan Reuters, pasar mata uang telah dibuat khawatir selama beberapa pekan terakhir karena para pedagang mencoba untuk berdamai dengan berbagai masalah, mulai dari Brexit hingga perlambatan pertumbuhan global dan prospek bank sentral utama. Investor berharap ada terobosan dalam pembicaraan perdagangan AS-China, dengan perselisihan tarif antara ekonomi terbesar di dunia sudah memengaruhi keuangan dan permintaan global.

“Kekhawatiran di sekitar pertumbuhan ekonomi global dan ketegangan perdagangan tentu saja merupakan faktor pendorong pasar saat ini,” jelas kepala strategi pasar di CMC Markets, Michael McCarthy. “Pasar juga telah melihat pergerakan spektakuler sejak akhir Desember kemarin, sehingga koreksi ekuitas baru-baru ini juga dapat disebabkan oleh posisi.”

Loading...